Efek Anak Sekolah Terlalu Dini

Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi bagi para pembaca di tulis oleh pakar parenting ibu Elly Risman, S. Psi, tentang apa yang terjadi jika anak sekolah terlalu dini .

1.Keyakinan umum yang beredar di masayrakat adalah sebagai berikut :

* Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yg tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas
* Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.

2. Sehingga yang terjadi adalah Ada ortu yg menyekolahkan sedini mungkin, bahkan ada yg masuk prasekolah diusia 1,5-2 tahun. wow? luar biasa bujab

3. coba Mari kita bercermin dan renungkan pernytaan dibawah ini :

* Apakah kita begitu meyakini bahwa anak harus segera pintar agar siap menghadapi persaingan zaman?

* Apakah kita disiapkan menjadi orang tua?

* Apakah memiliki bekal yang cukup dlm mengasuh?

* Bagaimana innerchild diri kita?

4. Apakah anda belum sadar? Betapa kita disiapkan untuk menjadi ahli namun tidak disiapkan jadi orangtua, sehingga tidak punya kesabaran dan endurance untuk menjadi orangtua.

5. Ilmu yg kita miliki untuk mengasuh pun serba tanggung.

Ilmu yg setengah-tengah, berujung pada false belief (keyakinan yg salah).
Sayangnya false belief ini dapat berubah menjadi societal false belief (keyakinan yg salah pada sekelompok orang).

Jika ortu tidak memiliki kemampuan berpikir (thinking skill) yang baik, false belief akibat ilmu yang serba tanggung itu jd pembenaran bersama atas keputusan kita yang keliru.

6. Pintar ada waktunya!
Karena yg berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini hrs jadi anak yg bahagia, bukan jd anak yg pintar!

7. Kita berpikir…

“Kan di sekolah belajarnya sambil bermain”
“Kan anak perlu belajar sosialisasi”
“Kan anak jd belajar berbagi & bermain bersama”

Padahal…
* Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dg beragam orang

* Saat anak diusia dini, otak anak yg paling pesat berkembang adl pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.

8. Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!

Taukah ayah bunda, permainan terbaik adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dg ayah ibu jga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.

9. Di sekolah, mainan lebih lengkap.
Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dg permainan yg siap pakai.
Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.

10. Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi.
Anak <5 th blm saatnya belajar sosialisasi. Ia blm bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.

Bermain bersama-sama= bermain diwaktu & tempat yg sama namun tdk berbagi mainan yg sama (menggunakan mainan masing2)

Bermain bersama= bermain permainan yg membutuhkan berbagi mainan yg sama.

11. Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan & mengikuti instruksi.
Aturan & instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yg dirasakan anak?
Analogi: Seorang anak <5 thn yg sangat berbakat dlm memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yg banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yg dirasakan anak: pusing!

12. Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.

Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul & dlm jenis apa.

Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.

Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).

anak yg mengalami BLAST, lebih rentan mjd pelaku & korban bullying, pornografi & kejahatan seksual.
13. Jika si adik ingin ikut kakaknya sekolah…
Sekolah itu bukan karena ikut-ikutan. Anak harus masuk masa teachable moment, krn memang ada anak yg mampu sekolah lebih cepat dr ketentuan umum yg berlaku.

Ortu harus mampu mengendalikan keinginan anak. Kendali ada ditangan ortu, krn otak anak belum sempurna bersambungan.
14. Ciri anak memasuki masa teachable moment.
* Menunjukkan minat utk sekolah
* Minat tersebut bersifat menetap
* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.
15. Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?
* TK A ? usia 5 th
* TK B ? usia 6 th
* SD ? usia 7 th
Dibawah usia 5 th, anak tdk perlu bersekolah.
Kebutuhan anak 0-8 tahun adalah bermain & terbentuknya kelekatan.
Jangan kau cabut anak2 dari dunianya terlalu cepat, krn kau akan mendapatkan orang dewasa yg kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-

Sebuah Renungan tentang kecerdasan

Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu.

Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh lengkap dengan persamaan matematis dan fisika.

Lalu saya tanya ke siswa saya? Apakah anak ini cerdas?…dijawab serentak sekelas..iya…dia anak yang cerdas sekali.

Lalu saya lanjutkan cerita
Anak ke 2: dengan gesit anak ke dua ini datang memungut kelapa yang jatuh dan bergegas membawanya ke pasar, lalu menawarkan kepedagang dan dia bersorak..yesss…laku Rp 8.000.

Kembali saya bertanya ke anak anak dikelas..apakah anak ini cerdas?…anak-anak menjawab iyaa…dia anak yang cerdas.

Lalu saya lanjutkan cerita

Anak ke 3: dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa keliling sambil menayakan, pohon kelapa itu milik siapa? Ini kelapanya jatuh mau saya kembalikan kepada yang punya pohon.

Saya bertanya kepada anak-anak…apakah anak ini cerdas?…anak anak mantap menjawab..iya..dia anak yang cerdas

Saya pun melanjutkan cerita ke empat
Anak ke 4: dengan cekatan, dia mengambil kelapanya kemudian dia melihat ada seorang kakek yang tengah kepanasan dan berteduh dipinggir jalan. “Kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh meminum dan memakan buah kelapanya”.

Lalu saya bertanya…apakah anak ini, anak yang cerdas? Anak-anak menjawab, yaa..dia anak yang cerdas

Anak-anak menyakini bahwa semua cerita diatas menunjukan anak yang cerdas.

Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki kecerdasunikannya. Dan mereka ingin dihargai kecerdasuniknya teraebut. Namun…yang sering terjadi..kita para orang tua dan pendidik, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yakni kecerdasan anak pertama, kecerdasan akademik, Lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai saat mengerjakan UN.

Sedang….Kecerdasan finansial (anak no 2), kecerdasan karakter (anak no 3) dan kecerdasan sosial (anak no 4). Belum ada ruang yang diberikan negara untuk mengakui kecerdasan mereka, mereka adalah anak kandung negera yang belum diberi ruang untuk diakui.

Saya jadi ingat, cerita ini, dulu sering kami jadikan olok olokan saat sma. Antara anak ipa dan anak ips, siapa yang sebenarnya cerdas?

Bapak ibu…anak bapak ibu semuanya adalah anak anak yang cerdas dengan keunikan kecerdasannya masing masing…hargai dan jangan samakan dengan orang lain atau bahkan dengan diri anda sendiri.
Mari hargai kecerdasan anak kita masing masing, dan siapkan mereka untuk zaman dimana mereka akan hidup kelak.

Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)

Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan.

Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut

1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta aplikasi penerapannya
2, Membentuk pemimpin yang amanah tabligh dan fatonah serta komunikatif
3. Memberikan pendidikan kewirausahan sebagai bekal kemandirian
4. Memfasilitasi siswa dengan berbagai ilmu yang sesuai minat dan bakat

PT Greenfields Indonesia job vacantion

PT Greenfields Indonesia

We are an agribusiness company with integrated Dairy Farm & Milk Processing
Plant, located in Malang – East Java.
To support our development program, we are looking for high quality fresh
graduate to be trained in our Management Trainee Program (4th batch) for
our milk processing factory.
The trainees will be:
· Trained intensively, in class & on job training, in various area of milk
processing.
· Involved in day to day operations of milk processing.
· Provided with external trainings to improve managerial and functional
competencies.
The candidates should meet our requirements below:
· Fresh Graduate from
Food Technology, Chemical Engineering, Industrial Engineering,
Mechanical Engineering, Chemistry Science, Animal Husbandry,
Veterinary Medicine
· Willing to be relocated to North Sumatra (Sumatera Utara) as part of
our development program
· Hard worker with high motivation and CAN DO attitude
· Independent & high initiative person
· Good communication & interpersonal skill.
· Good English communication is an advantage
· Willing to work at shift during training program
Daftarkan diri anda kepada Ibu Siti di bagian Career Center UGM
Tempat pelaksanaan Proses Seleksi :
Gedung Serba Guna Prof. H.Soedarto, SH
Jl. Prof. H.Soedarto, SH Universitas Dipenegoro – Tembalang, Semarang
Presentasi & Psikotes : Tanggal 15 Desember 2010 ( Jam 08.00 – Selesai)
Interview : Tanggal 16 Desember 2010 (Jam 08. 00 – Selesai)
* Tuliskan posisi yang anda lamar di sudut kanan atas CV anda. (Ex : MT – Food Technology)
* Kami akan memberikan sejumlah uang untuk bantuan transportasi apabila anda berasal dari luar
Semarang. Dengan cara menyerahkan tiket perjalanan anda

Memahami Wanita Melalui Bulan Lahir

 

Memahami karakter pasangan merupakan hal terpenting agar tercipta keharmonisan dalam menjalani kehidupan terutama bagi yang berumah tangga. Bagi yang belum berumah tangga atau sedang berteman dengan wanita tidak ada salahnya untuk memahami mereka, karena wanita ingin di mengerti. Kami membahas karakteristik wanita berdasakan bulan lahir, mungkin hal ini sangat cocok bagi para pria untuk mengerti wanita

Lanjutkan membaca ‘Memahami Wanita Melalui Bulan Lahir’

MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?

MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?
By Munif Chatib

“Pak Munif, anakku ‘gila; sama games, gimana cara menghentikannya?”
“Pak Munif, anakku bilang: ‘TV is my life!”

Betapa banyak kegalauan orangtua melihat anak-anaknya tersihir oleh games dan TV. Ketika saya tes ke teman-teman saya yang rata-rata berumur 40-an, untuk main games bola dengan play station, ternyata mereka yang sudah jadi orangtua juga tersihir oleh games bola tersebut. Sampai-sampai lupa makan malam, lupa kalau di rumah ada sang isteri dan anak yang menunggu. Berarti boleh dong saya pakai judul artikel di atas: MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?

Jawabnya ternyata sederhana, yaitu ternyata TV dan GAMES itu mempunyai modalitas tertinggi yang disukai oleh otak kita. Dengan kata lain wajar, banyak orangtua dan anak yang suka games. Lalu apa yan gsimaksud dengan modalitas otak itu?

Secara sederhana modalitas itu adalah jalan informasi masuk ke otak kita. Ada beberapa teori yang menjelaskan modalitas ini, yang terkenal adalah teori dari Dr. Venon Magnesen dari Texas Universitas. Ternyata hasilnya jalannya informasi yang masuk ke otak mempunyai kualitas yang berbeda-beda dalam hal penyerapan informasinya.

Jika informasi didapat dengan cara MEMBACA, mempunyai kualitas ingatan hanya 20%.
Jika dengan MENDENGAR, kualitas ingatannya 30%.
Jika dengan MELIHAT, kualitas ingatannya 40%.
Jika dengan MENGUCAPKAN, kualitas ingatannya 50%.
Jika dengan MELAKUKAN, kualitas ingatannya menjadi 60%.
Jika dilakukan dengan meLIHAT, MENGUCAPKAN, MENDENGAR, dan MELAKUKAN, kualitasnya sampai 90%.

Bobbi de Porter dalam bukunya Quantum Teaching, juga membahas modalitas ini dengan istilah VAK, Vidual, Audio dan Kinestetis. Hasilnya sama, modalitas tertinggi itu adalah kinestetis atau dengan melakukan. Sekarang perhatikan makhluk yang bernama TV atau GAMES. Ternyata dua makhluk ini menggunakan modalitas tertinggi dengan kualitas terbaik. TV dan GAMES adalah media visual yang bergerak, jika ada audionya, dahsyat. Suara bom yang menggetarkan jantung. Lengkingan tangisan dan lain-lain. Visual tersebut tidak diam, namun bergerak. Apalagi jika menggunakan tiga dimensi. Wow pasti lebih heboh. Kita diajak ikut serta, baik fisik maupun emosi. Pasti kita merasakan tak puas, perasaan kalah jika memang kalah dalam bermain GAMES. Ada emosi terpantik di dalamnya. Dan itu semua sangat disukai oleh otak kita dan anak kita. Ibarat jalan tol, TV dan GAMES menyuguhkan informasi dengan menggunakan jalan tol yang paling lancar, cepat, tidak macet untuk sampai ke otak kita.

Nah itulah penyebab mengapa kita dan anak-anak sering tersihir oleh TV dan GAMES. Memang hal yang wajar, sebab otak kita menyukai apa yang disuguhkan oleh dua makhluk itu. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana tiba-tiba TV, GAMES dan MEDIA yang lain membawa dampak negatif dalam kehidupan anak-anak kita. Hal itulah yang harus diteliti dengan fokus dan dicarikan jalan keluarnya. Minimal dengan pemahaman kita tentang modalitas, kita sebagai orangtua dan guru sekarang mengetahui jika informasi disampaikan dengan audio, percayalah informasi tersebut lama sekali sampai ke otak kita dan anak kita. Jadi yang harus dibudayakan adalah mengajak ikut serta anak dalam memahami apapun dengan ‘DO IT’, atau ‘LAKUKAN SAJA’. Kita harus mengalahkan kekuatan modalitas pada GAMES dan TV.

Catatan akhwat tomboy

“Ustadzah tomboy ya?” kata salah seorang santri yang membuat saya kaget. Namun saya mencoba tersenyum dan balik bertanya, “kok adek tahu?”
“Iya, dilihat dari cara jalannya” jawab santri tersebut dengan polosnya
“Deg!!!” saya terhenyak dan langsung mengamati cara jalan saya. Sejak saat itu saya selalu introspeksi agar setiap prilaku saya jangan sampai menyerupai laki-laki.

Saya teringat akan hadits ini: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Diantara tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat adalah laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki.” (Riwayat Abu Nu’aim).

Hadits itu menjelaskan bahwa salah satu tanda kiamat adalah banyaknya wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan. Sedangkan hukum seorang perempuan yang menyerupai laki-laki adalah haram. Seperti yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwah Rasululullah bersabda melalui Ibnu Abbas : Beliau melaknat seorang laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari).

Akhwati fillah… Tanpa kita sadari fenomena seperti ini sering terjadi di tengah kehidupan kita. Sebagai contoh saya sebutkan salah seorang teman saya. Kami punya banyak kesamaan karakter. Hanya saja dia lebih tomboy dari pada saya. Sandal gunung, kaos oblong, hem, jaket, ransel itu adalah gayanya sehari–hari. Bahkan kalau saya ingat waktu itu dia sempat ke walimah memakai sandal gunung dan tas ransel. Gubrak!!!

“Kamu mau naek gunung apa mau ke walimahan???,” Ledek saya saat dia cerita habis dari walimah memakai sandal gunung dan tas ransel. Sampai saya sering menyebutnya akhwat ganteng. Karena lagi dan lagi saya menyangka ada ikhwan masuk.

Itulah sedikit cerita tentang teman saya. Mungkin dia sudah berproses, jilbabnya besar namun sikap dan style-nya yang menyerupai ikhwan membuat kita harus merenungkan kembali bagaimana seorang akhwat harusnya bersikap. Mungkin ketika kita menyadari kodrat kita sebagai seorang akhwat, maka tak sepantasnya kita bersikap seperti itu.

Rasululullah bersabda melalui Ibnu Abbas : Beliau melaknat seorang laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari). Hadits ini dimaknakan bukan sekedar penampilan yang menyerupai laki-laki tapi juga sikap dan prilaku. Oleh karenanya jangan bangga bila engkau mendapat gelar akhwat ganteng. Kalau kita ingat, hadits Rasulullah di atas, mungkin kita akan berpikir ulang untuk melakukan hal-hal yang menyerupai laki-laki termasuk dalam style dan prilaku. Karena kita tahu bagaimana hukum akhwat yang bersikap menyerupai ikhwan.

Akhwati fillah… Berubah menjadi akhwat bukan sekedar berubah dari celana jin menjadi rok, bukan sekedar kaos oblong menjadi blus panjang, dan bukan sekedar mengubah jilbab gaul menjadi jilbab gedhe. Namun penanaman nilai karakter keakhwatan itu sendiri yang perlu ditanamkan dalam diri. Bagaimana seharusnya seorang akhwat bersikap, bagaimana seorang akhwat berperilaku sehingga tidak sampai menyerupai laki-laki. Waallahu a’alam bish shawab. [Ukhtu Emil]


Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra