The Aurora Girls

The Aurora Girl
(Gadis Aurora)
By: Siti Hadianti

Namaku Daniar. Aku tinggal bersama ibuku di sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggir kota. Sejak kecil aku dibesarkan dengan kesederhanaan. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ayah sudah lama meninggal dunia. Hmm, biar kuingat, ayah meninggalkan kami berdua ketika aku berusia 3 tahun. Kata ibu, ayah memiliki penyakit yang sulit disembuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ibu bekerja sebagai tukang jahit. Kadang aku membantu ibu mengantarkan pesanan kepada pelanggan. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk saat ini karena aku belum bisa menjahit seperti ibu.
Ibu bilang jika aku ingin mendapat uang untuk membeli sesuatu maka aku bisa memperolehnya dengan cara berdagang. Itulah yang aku lakukan. Aku menjual kue di sekolah. Ada beberapa teman dari kalangan menengah ke atas yang terkadang suka menyebutku gadis penjual kue. Aku tidak tahu itu sekadar sebutan atau lebih. Tapi itu benar adanya dan aku tidak perlu merasa gusar.
Saat ini aku duduk di kelas 4 sekolah dasar. Sekolahku letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Aku hanyalah seorang gadis biasa, jadi aku berusaha keras agar tidak ketinggalan pelajaran. Pak Salman, wali kelasku, mengatakan bahwa jika aku ingin meningkatkan pengetahuan, aku bisa datang ke perpustakaan dan banyak membaca buku. Aku mengiyakan saran darinya dan berniat untuk melakukannya, walaupun tidak begitu yakin.
Selama aku bersekolah, aku hanya pernah mengunjungi perpustakaan ketika diminta oleh guruku mencari suatu buku untuk pelajaran. Aku jarang kesana karena aku tidak tertarik. Perpustakaan sekolahku kecil dan tidak banyak buku yang tersedia. Teman-teman juga jarang pergi kesana. Padahal, perpustakaan adalah tempat terbaik bagi orang-orang yang haus akan ilmu. Di perpustakaanlah kita bisa menemukan harta karun yang membuat kita bisa ‘menjelajahi’ dunia. Yep, buku adalah jendela dunia, Kawan.
Suatu hari, aku memutuskan pergi ke perpustakaan. Benar saja, ketika tiba disana hanya ada seorang anak perempuan sedang membaca buku yang sepertinya sangat seru. Dia hanya melihatku sekilas, tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitas membacanya. ‘Sepertinya kakak kelas 6’ pikirku.
“Tahu tentang aurora?”
Ketika sedang asyik memilih-milih buku, sebuah suara mengagetkanku. Aku menengok pada satu-satunya orang dalam ruangan itu. Aku tidak berkhayal. Kakak kelasku memang sedang berbicara padaku.
“Tidak tahu. Apa Kak tadi namanya?”
“Sini deh.” ajak kakak kelasku sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Aku menurut dan duduk di sebelahnya. Dia menunjukkan buku yang sedang dibacanya padaku. Entah apa judul buku yang sedang dibacanya. Aku tak begitu peduli karena beberapa detik setelah aku melihat gambar yang terpampang pada buku tersebut, aku terkesima.
“Bagus ya?” tanyanya. “Oya, namaku Hati” ucapnya sambil menjulurkan tangan.
Aku menyambut uluran tangannya “Daniar” jawabku.
“Ini apa kak?” tanyaku memastikan.
“Aurora. Tapi aku hanya tahu namanya, tidak tahu tentang yang lain karena bahasanya susah.”
Setelah aku perhatikan, memang benar buku ini menggunakan bahasa Inggris. Jadilah aku dan Kak Hati hanya membolak-balik buku untuk melihat gambar aurora yang luar biasa sepanjang waktu istirahat di perpustakaan itu. Sejak saat itu aku berniat dalam hati untuk melihatnya secara langsung. Aurora. Dalam hatipun aku berterima kasih pada Kak Hati yang telah memperkenalkanku dengan keajaiban alam luar biasa indah ini.
Ketika sekolah menengah pertama, aku sempat melupakan mimpiku melihat aurora karena disibukkan dengan kegiatan sekolah. Aku bergabung dalam ekstrakulikuler angklung. Entah kenapa. Mungkin karena angklung adalah alat musik khas Indonesia yang menarik. Bagaimana mungkin bambu bisa dirangkai sedemikian rupa sehingga menghasilkan melodi yang indah seperti itu? Untuk menjawab rasa penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk memilih angklung sebagai kegiatan ekstrakulikuler.
Begitupun ketika sekolah menengah atas, aku masih melajutkan ekskul angklung. Aku belum tertarik mengikuti kegiatan lainnya. Toh, dengan mengikuti kegiatan ini saja teman-temanku sudah banyak dan aku berkesempatan menjelajahi berbagai tempat untuk mengikuti kompetisi. Aku juga harus meluangkan waktu untuk membantu ibu. Begitulah.
Setelah lulus SMA, aku melanjutkan studi ke perguruan tinggi terbaik di salah satu kota besar di Pulau Jawa. Saat itu, aku bertemu lebih banyak orang, mempunyai lebih banyak teman dan mendapat banyak inspirasi. Aku ingin menjadi orang yang hebat dan bermanfaat bagi orang lain. Pada titik ini, aku mengingat kembali impianku untuk melihat aurora. Aku mulai mencari informasi mengenai tempat-tempat terbaik keberadaannya. The best spot, orang bilang. Akhirnya aku mengetahui bahwa untuk melihat aurora kita bisa pergi ke negara-negara Skandinavia, seperti Finlandia, Norwegia, Swedia dan Islandia. Di tempat-tempat itulah aurora paling jelas terlihat. Sebenarnya kita bisa melihat aurora di negara lain seperti Australia, Kanada, Selandia Baru, Rusia (Murmansk) dan Amerika Serikat (Alaska) namun disana aurora tidak begitu aktif terlihat.
Saat sedang berselancar di dunia maya, aku banyak menemukan artikel mengenai aurora. Menurut wikipedia, aurora (northern light) adalah fenomena alam yang menyerupai pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh Matahari (angin surya). Walaupun harus memutar otak untuk memahaminya, aku tidak begitu memusingkannya. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan melihat gambarnya. ‘Ya Allah, segera pertemukanlah aku dengannya’ doaku.
Artikel tersebut juga menginformasikan bahwa di bumi, aurora terjadi di daerah di sekitar kutub utara dan kutub selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah utara dikenal dengan nama aurora borealis. Aurora borealis selalu terjadi di antara bulan September dan Oktober serta bulan Maret dan April. Fenomena aurora di sebelah selatan yang dikenal dengan aurora australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.
Ketika kuliah, aku berusaha keras untuk mendapat nilai yang baik agar bisa melanjutkan studi ke salah satu negara Skandinavia. Selain karena aku juga ingin melanjutkan studi master di luar negeri, motivasiku juga tumbuh berlipat ganda karena ingin melihat aurora dengan mata kepalaku sendiri. Aku datang ke berbagai seminar beasiswa dan aktif mencari informasi melalui internet. For your info, Kawan, informasi mengenai beasiswa itu tumpah ruah di internet. Kita hanya tinggal berniat dengan baik dan sungguh-sungguh mengerjakannya. Jangan lupa tawakal dan doa.
Setelah hampir 4,5 tahun menempuh studi bachelor (sarjana) akhirnya aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Sebelum wisuda, kabar baik juga menghampiriku. Aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi di Ural Federal University, Rusia. Aplikasi beasiswaku diterima oleh pihak universitas disana. Hal pertama yang kulakukan adalah sujud syukur kepada Allah swt. Engkau memang luar biasa ya Allah. Kalau begitu, ketika disana aku harus pergi ke Murmansk untuk melihat aurora.
Namun, kebahagiaan yang kurasakan hanya sesaat mendekatiku. Ketika sedang mengurus berbagai hal untuk persiapan berangkat ke Rusia, ibuku jatuh sakit. Hatiku pun sakit. Di malam-malam panjang ketika ibuku terbaring lemah, aku bermunajat pada Allah swt. Aku memohon agar diberikan jalan keluar. Aku pun tersadar bahwa benar adanya jika aku pergi ibuku akan hidup sendirian. Tidak akan ada yang merawatnya. Selama ini aku telah bersikap egois. Aku tidak berpikir tentang kehidupan ibuku jika ditinggalkan olehku nanti.
Di lain sisi, aku masih belum mengikhlaskan kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan di Rusia. Kesempatan seperti ini jarang datang dua kali, pikirku saat itu. Namun, setelah pemikiran yang panjang dan matang, aku memutuskan untuk melepasnya. Aku memilih ibuku, yang kusayangi sepenuh hati. Tak tega aku meninggalkannya hanya demi impianku yang Insya Allah masih bisa kuraih nanti.
Rasa syukur yang tak terkira ketika ibuku sembuh dari penyakit yang cukup lama dideritanya. Sambil bekerja, aku merawat ibuku. Saat itu juga, perlahan aku mulai melupakan aurora. Aku percaya bahwa apa yang kita usahakan saat ini akan kita tuai hasilnya nanti. Jadi saat ini, aku hanya melakukan yang terbaik yang dapat kulakukan. Selalu ada jalan untuk orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh. Man jadda wa jadda.
Tahukah kalian, Kawan? Tepat sehari setelah usiaku menginjak 25 tahun, seorang pria yang baik hatinya melamarku. Aku belum begitu mengenalnya, tapi ibu meyakinkanku bahwa he is the right person. Setelah meminta petunjuk dari Allah swt., aku memutuskan untuk menerimanya.

Satu bulan setelah pernikahan.
“Aku ditugaskan ke Menesjarvi, Finlandia selama 6 bulan. Aku ingin mengajak kamu dan ibumu ikut kesana. Apakah kamu bersedia?”
“Apakah kamu masih perlu bertanya?” tanyaku tersenyum bahagia. Bukan. Sangat sangat sangat bahagia.

Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar-Rahmaan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s