UKURAN KESEJAHTERAAN dalam pertanian

Berbicara tentang kesejahteraan petani, ukuran yang sering digunakan oleh para cerdik pandai, utamanya ekonom, adalah sekadar ukuran-ukuran ekonomi khususnya penda-patan usahatani. Tentang hal ini, mantan Ketua Umum PERHEPI, almarhum Prof. Mubyarto (1980) pernah mengingatkan tentang pentingnya pemahaman terhadap rasio-nalitas non-ekonomi di samping rasionalitas ekonomi. Di lain pihak, jika pendapatan petani yang akan dijadikan sebagai satu-satunya ukuran kesejahteraan petani, almarhum Prof. Soedarsono Hadisapoetro (1970) pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Usahatani mengingatkan tentang adanya perbedaan ukuran yang dilakukan oleh petani sebagai pelaku usahtani dengan penilaian pihak-luar (baca: ilmuwan, birokrat, dll)

Kesejahteraan, dalam realita kehidupan masyarakat, ternyata ukuran yang digunakan bukanlah sekadar ukuran ekonomi, tetapi juga: kesejahteraan dalam arti: sosial, fisik dan ental.

Tentang kondisi ekonomi (pendapatan) petani, terdapat beragam faktor yang mempengaruhinya, utamanya yang menyangkut ragam pekerjaan yang dilakukan. Artinya, kesejahteraan (ekonomi) petani sebenarnya tidak semata-mata hanya dilihat dari besarnya pendapatan dari kegiatan usahatani (on farm) tetapi seberapa jauh dia mampu mengalokasikan waktu dan mencurahkan tenaga-kerja (keluarga) untuk kegiatan produktif di luar pertanian (off-farm dan non-farm).

Hal ini perlu dikritisi, karena bagi petani kecil dengan luasan sekitar 0,25 Ha, pendapatan on-farm hanya memberikan sumbangan sekitar 20-30% terhadap pendapatan keluarganya (Sutanto, 2005; Rahayu, 2007), sementara yang memiliki luas lahan 1 )satu) Ha pendapatan on-farm hanya memberikan sumbangan sekitar 70% terhadap pendapatan keluarganya (Mardikanto, 2007b) Di lain pihak, kesejahteraan non-ekonomi (fisik, sosial, dan mental), selain dipengaruhi oleh keadaan ekonomi juga ditentukan oleh nilai-nilai sosial-budaya yang secara bersama-sama akan menentukan tingkat pendidikan dan kesehatan yang pada giliran berikutnya sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik, mental, dan partisipasi sosial.

Di samping itu, perbaikan pendapatan petani mensyaratkan perbaikan manajemen usahatani yang menyangkut: pembiayaan, produksi dan pemasaran. Dqalam hubungan ini, belajar dari pengalaman pelaksanaan INSUS dan Kemitraan Pola Inti-Plasma, pengembangan Kelompok-tani dan Gabungan Kelompok-tani dapat diharapkan sebagai alternatif perbaikan manajemen usahatani petani-kecil.

PERAN PEMERINTAH

Kesejahteraan petani, dalam kehidupan nyata tidak lepas dari peran pemerintah. Bahkan dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan-kebijakannya, birokrasi pemerintah bersama-sama politisi dan pelaku bisnis, telah menempatkan warga masyarakat (petani) sebagai sub-ordinatnya. Karena itu, kesejahteraan petani sangat tergantung kepada seberapa jauh kebijakan pemerintah berpihak atau justru menempatkan petani sebagai martil (tumbal) pembangunan.

Hal ini nyata terlihat pada kebijakan-kebijakan pembangunan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan selama pemerintahan Presiden Soeharto, baik melalui kebijakan Intensifikasi, pertanian sebagai pendukung industri, pengadaan pangan melalui penetapan harga-dasar, impor beras, pembelian cengkih, pemasaran jeruk, dll.

Tentang hal ini, Kasryno (1984) menyimpulkan bahwa kebijakan intensifikasi pertanian ternyata telah menimbulkan pengkutuban (polarisasi) penguasaan lahan di pedesaan, semakin meningkatnya jumlah tuna-kisma (petani tak bertanah), dan semakin terbatasnya peluang-kerja luar pertanian (off-farm dan non-farm) bagi petani dan masyarakat pedesaan pada umumnya. Lebih lanjut, Mardikanto (1990) menganalisis bahwa kebijakan pangan murah dan ekspor non-migas telah berakibat pada rendahnya harga pangan dan harga produk pertanian yang diperlukan sebagai bahan-mentah/bahan-baku industri. Di samping itu, kebijakan pengadaan pangan melalui penetapan harga dasar, ternyata hanya menguntungkan pedagang, sementara petani sebagai produsen tidak pernah menikmati harga-dasar dan konsumen tidak pernah dapat menikmati harga beras murah di musim panen (Mardikanto, 1986). Kondisi serupa juga dialami petani akibat kebijakan impor beras, pemasaran cengkih dan pemasaran jeruk (Mardikanto, 2007a).

1 Response to “UKURAN KESEJAHTERAAN dalam pertanian”


  1. 1 jasa ginting Januari 25, 2015 pukul 4:31 pm

    ulasannya masih kurang tajam,lanjutkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: