Penyuluhan pertanian di masa depan

sebuah tulisan yang disadur dari tulisan prof. totok mardikanto sebagai refleksi kita bersama untuk melihat bagaimana peran dan keberfungsian penyuluh pertanian di masa depan.
PENYULUHAN PERTANIAN DI MASA DEPAN

Penyuluhan Pertanian
Di Masa Depan

A. Tantangan Penyuluhan Memasuki Abad 21

Memasuki abad 21, dunia telah banyak mengalami perubahan, terutama dalam bentuk globalisasi dalam banyak aspek kehidupan. Kondisi tersebut berimplikasi kepada semua bidang dan sektor kegiat-an pembangunan, termasuk kegiatan penyuluhan pertanian. Kondisi tersebut, telah mengahadapkan para pengambil keputusan pada dilema yang setidaknya menyangkut 2 (dua) isu-pokok, yaitu:

1) Informasi dan organisasi pembangunan pertanian yang dibutuh-kan masyarakat untuk:memperoleh informasi dan ide-ide baru guna mengembangkan usahataninya agar dapat menghadapi kompleksitas pola permintaan konsumen, mengurangi kemis-kinan, serta terus menjaga kelestarian sumberdaya-alam dan ling-kungannya.

2) Pembiayaan penyuluhan dan penyebar-luasannya yang melekat pada mandat yang diembannya, yaitu:
a) tugas-tugas pokok
b) ketergantungannya terhadap kebijakan pemerintah dan fungsi lembaga-lembaga lainnya
c) masalah-masalah yang diakibatkan dan berdampak pada kemauan politik serta dukungan finansialnya
d) keterandalannya sebagai lembaga layanan informasi dan pengetahuan baru
e) keberlanjutan fiskal, dan
f) interaksinya dengan tumbuh dan berkembangnya ilmu penge-tahuan dan teknologi.

Dilema penyuluhan pertanian juga dilaporkan oleh Davidson, et al (2001) dari kajiannya di Pakistan, yang mengungkapkan adanya 4 (empat) hal, yaitu:

1) Sering terjadi konflik, persaingan, dan tumpang-tindih antara penyuluhan yang dilakukan instansi pemerintah dan pihak swasta.
2) Baik instansi pemerintah maupun swasta, seringkali meman-faatkan kontak-person di dalam implementasi strateginya, tetapi tidak banyak manfaatnya bagi difusi inovasi.
3) Lembaga swasta, lebih suka memusatkan perhatiannya kepada petani-kaya atau kelompok-atas, yang biasanya lebih cepat meng-adopsi inovasi yang ditawarkan.
4) Instansi pemerintah sering berhadapan dengan petani-terdidik, tetapi tidak cukup memiliki kemampuan untuk mempengaruhi petani-kaya

Khusus yang berkaitan dengan proses adopsi inovasi, Vanclay (1992), mengidentifikasi adanya 10 (sepuluh) hambatan atau barrier adopsi, yang meliputi:

1) Kompleksitas, yang disamping mempersulit kermampuan petani untuk memahami dan menerapkannya, seringkali juga berakibat pada meningkatnya resiko (kegagalan) yang akan dideritanya.

2) Divisibilitas, yang seringkali tidak dijumpai dalam rekomendasi penyuluh yang lebih cenderung menawarkan “paket teknologi” yang harus dilaksanakan secara serentak (simultan).

3) Inkompatibilitas, yang sering tidak sesuai dengan tujuan petani dan usahataninya.

4) Nilai-ekonomis inovasi, yang tidak selalu dapat memenuhi nilai-nilai non-ekonomi yang dikehendaki oleh petaninya.

5) Resiko dan ketidak-pastian, yang tidak hanya disebabkan oleh ketergantungan usahatani kepada kondisi alam dan lingkungannya yang menetukan keberhasilan panennya, tetapi juga resiko dan ketidak-partian pemasaran/harga produk.

6) Konflik informasi, karena petani menerima informasi dari beragam sumber yang belum tentu sepakat terhadap kemanfaatan serta dapatnya diterapkan.

7) Keharusan penggunaan modal dari luar, yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh petani sendiri, seperti: benih, pestisida, peralatan, dan mesin-mesin pertanian.
8. Biaya intelektual, khususnya terhadap inovasi yang datang dari luar yang belum mampu dipahami oleh petaninya, sehingga mereka harus mengeluarkan biaya-intelektual sebelum dapat mengadopsinya.

9) Hilangnya fleksibilitas, yang biasanya dimiliki oleh petani tradi-sional, untuk menyesuaikan komoditi dan pola usahataninya dengan keadaan iklim dan kondisi alam lain yang tidak menentu.

10) Prasarana fisik dan sosial (kelembagaan) yang belum tentu tersedia dengan mutu dan layanan sebaik yang diharapkan.

Lebih lanjut, Vanclay (1994), telah mengidentifikasi terjadinya krisis yang melanda kegiatan penyuluhan pertanian, yang menyangkut:

1) Krisis fiskal, karena menurunnya anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk kegiatan penyuluhan pertanian.

2) Krisis efektivitas penyuluhan, karena tidak dilaksanakannya fungsi-fungsi penyuluhan sebagaimana mestinya, petani tidak mau mengadopsi inovasi yang direkomenda-sikan (khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan)

3) Krisis legitimasi, yang berupa komentar-komentar negatif yang disampaikan oleh petani terhadap kinerja penyuluh dan program-program penyuluhan pertanian.

4) Krisis teoritis, berupa penolakan model-model penyuluhan “tradisional” tanpa diikuti dengan alternatif yang lebih mudah diterima oleh masyarakat (petani) secara luas.

0 Responses to “Penyuluhan pertanian di masa depan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: