Intregritas penyuluh pertanian

Dalam UU No. 16 Tahun 2006 pasal 6 (2a) dinyatakan bahwa;.. penyuluhan dilaksanakan secara terintegrasi dengan subsistem pembangunan per-tanian, perikanan, dan kehutanan;

Tentang hal ini, perlu dipahami bahwa, dewasa ini, pemerintah menyelenggarakan tidak kurang dari 20 jenis penyuluhan pembangunan di pedesaan. Oleh sebab itu, perlu perenungan yang sungguh-sungguh, apakah penyuluhan (sektoral) pertanian masih diper-lukan, ataukah hanya dikembangkan satu kegiatan penyuluhan pembangunan perdesaan secara terinte-grasi dan holistic

Terhadap hal-hal di atas, dapat dikemukakan:

(1) Kebijakan Penyuluhan Pertanian

Sejarah mencatat bahwa, sejak jaman penjajahan sampai dengan bergulirmnya reformasi hingga sekarang telah terjadi beragam kebijakan penyuluhan pertanian di Indonesia, dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

a.)Meskipun kegiatan penyuluhan pertanian di jaman penjajahan telah memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi hanya terfokus pada pengembangan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar.Sedang penyuluhan bagi pertanian rakyat relatif tidak banyak tersentuh.

b.)Mengawali masa kemerdekaan, pembentukan BPMD sebagai basis penyuluhan pertanian layak dihargai.

c.)Sayangnya, kegiatan penyuluhan yang menggunakan pendekatan “tetesan minyak” dirasakan sangat lamban dan tidak banyak memberikan manfaat serta dampak terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.

d.)Kegiatan penyuluhan yang dilakukan melalui KOGM dan Padi Sentra dengan pendekatan “tumpahan air” memang diakui lebih efektif dibanding pendekatan yang “tetesan minyak” yang digantikannya.

e.)Sayangnya, kegiatan penyuluhan di jaman itu dilaksanakan secara “komando” yang terkesan militeristik dan kurang menggunakan proses pendidikan.

f.)Kegiatan penyuluhan masalmelalui BIMAS dan INMAS terbukti mampu memberi-kan manfaat yang signifikan, utamanya terhadap kenaikan produktivitas padi. Tetapi, kegiatan penyuluhan yang merupakan pelaksanaan Revolusi Hijau tersebut tidak banyak memberikan manfaat terhadap pendapatan petani.Bahkan Kasryno (1984) mencatat beragam dampak negatif yang menyangkut:

·menyusutnya kesempatan-kerja bagi masyarakat pedesaan

·semakin bertambahnya petani yang tidak-bertanah (tuna-kisma)

·melebarnya kesenjangan pendapatan masyarakat

Di samping itu, introduksi varietas padi berumur pendek yang dibarengi dengan penggunaan pupuk-buatan dan pestisida yang semakin intensif (ragam dan dosisnya) telah berakibat buruk terhadap kelestarian alam berupa:

(a)rusaknya pergiliran tanaman yang berdampak lebih lanjut terhadap eksplosi hama/penyakit tanaman

(b)munculnya resistensi dan resurgensi hama/penyakit terhadap pestisida tertentu serta munculnyabiotipe baru.

(c)Kerusakan sifat-sifat fisika dan kimia tanah

(d)Defisiensi unsur hara-mikro

(e)Dll.

(2)Penyelenggaraan sistim kerja LAKU/TV, dilihat dari: profesionalisme penyuluh,dan layanan ter-hadap (kelompok) petani, merupakan ”revolusi” kegiatan penyuluhan di Indonesia.

(3)Di lain pihak, inovasi sosial yang dilakukan melalui INSUS telah mampu menmbus keter-gantungan terhadap inovasi teknologi yang dinilai bamnyak memberikan akibat buruk (secara tek-nis, sosial, dan budaya).

(4)Sayangnya, keberhasilan LAKU/TV yang diba-rengi dengan kegiatan INSUS dan SUPRA INSUS tersebut justru ”dirusak” dengan kebijak-an penempatan kegiatan penyuluhan/penyuluh pertanian dari Sekretariat BIMAS kepada masing-masing sub-sektor.

(5)Pembentukan BIPP yang semula dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme penyuluhan, ternyata (karena lemahnya koordinasi dengan Dinas Teknis terkait) di beberapa daerah justru melemahkan kinerja penyuluh/penyuluhan perta-nian

(6)Eforia reformasi yang bergulir sejak awal 1998, yang diikuti dengan kebijakan Desentralisasi/Oto-nomi Daerah ternyata justru berdampak buruk bagi kinerja penyuluhan.

(7)Hal ini disebabkan oleh karena persepsi peme-rintah provinsi/kabupaten/kota yang tidak selalu posiitif terhadap kegiatan penyuliuhan/penyuluh pertanian, yang berakibat pada tidak optimalnya pemanfaatan kelembagaan, tenaga dan sarana/ prasarana penyuluhan yang telah tersedia.

Melemahnya kinerja penyuluhan pertanian (yang dilakukan oleh pemerintah) juga disebabkan oleh:

(a)semakin berkurangnya jumlah penyuluh, karena memasuki usia-pensiun

(b)semakin lemahnya produktiivitas penyuluh karena umur yang semakin tua

(c)semakin meningkatnya frekuensi dan mutu penyuluhan yang dilakukan oleh swasta, LSM dan perguruan tinggi.

(d)Semakin bertambahnya sumber-sumber inovasi yang lebih mudah diakses petani melalui media-masa

(e)Kondisi sumberdaya alam yang semakin menurun, karena rusaknya sarana/prasarana pengairan dan menurunnya sifat-sifat fisika dan kimia tanah.

(8) Diterbitkannya UU No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan kehuatanan, ternyata belum memberikan manfaat signifikan bagi perbaikan kinerja penyuluhan pertanian.

Lebih lanjut, berkaitan dengan kebijakan penyuluhan di era reformasi, penting dibahas tentang desentrali-sasi penyuluhan pertanian.

Tentang hal ini, kajian yang dilakukan di negara-negara Amerika Latin tentang alasan-alasan tentang pentingnya desentralisasi penyuluhan pertanian, amtara lain mengungkapkan:

a)Kelemahan strategi nasional dalam menyerap/ mengakomodasi aspirasi lokal pada kegiatan perencanaan penyuluhan pertanian yang diper-lukan

b)Rendahnya mutu supervisi/pengawasan

c)Lemahnya aliran pengetahuan/inovasi bagi kaum miskin, utama-nya yang menyangkut keterkaitan penelitian, penyuluhan dan lembaga-lembaga pelatihan

d)Lemahnya pengembangan karir penyuluh, ter-utama yang bekerja berdasarkan kontrak.

e)Lemahnya posisi-tawar masyarakatmiskin untuk memperoleh subsidi dari pemerintah.

Terkait dengan hal ini, kajian yang dilakukan terha-dap negara-negara yang telah melakukan desentrali-sasi, membuktikan bahwa:

a)adanya keseimbangan yang adil antara pusat dan daerah,baik secara administratif, politis, dan fis-kal.

b)desentralisasi politis, merupakan unsur yang pen-ting dalam pemi-lihan wakil-wakil rakyat.

c)Meningkatnya peran LSM dan partisipasi masya-rakat yang signifikan.

Telaahan lebih lanjut tentang proses desentralisasi penyuluhan pertanian, menunjukkan tentang penting-nya identifikasi pelaksana/penanggungjawab peran-peran penyuluh, apakah tetap dipegang oleh peme-rintah pusat ataukah lebih didesentralisasikan, yaitu:

a)Perumusan kebijakan, strategi dan perencanaanpenyuluhan (sentraliasi)

b)Program pelatihan untuk penyuluh (sentralisasi dan desentrali-sasi)

c)Dukungan spesialis-teknis untuk kegiatan penyu-luhan(sentrali-sasi)

d)Produksi materi penyuluhan, produk audio-visual, buku pedo-man, dan bahan-bahan penyu-luhan yang lain (yang biasanya disentralisir

e)Monitoring danEvaluasi untuk mendukung mutu-program terkait (yang dibutuhkan pada semua aras manajemen)

f)Program-program pelatihan untuk masyarakat/ petani (pada umumnya didesentralisasikan)

g)Layanan informasi pasar (sentralisasi)

h)Dorongan terhadap (termasuk pengendalian) penyuluhan swasta (privatisasi dicampur dengan pengendalian sentralistis dan desen-tralistis)

i)Media masa untuk kampanye, termasuk siaran radio, TV, majalah pertanian, surat-kabar,((yang biasanya disentralisir,tetapi sangat mungkin untuk didesentralisasi-kan atau diserahkan kepada pihak swasta/diprivatisasikan

j)Penyebar-luasan telepon, internet,serta kontak (tanya-jawab) dari petani, serta lembaga-lembaga agribisnis dan penyuluhan, yang disentralisasi-kan.

Di samping itu, berrkaitan denganpraktek desen-tralisasi yang baik, diakui bahwa desentralisasi sangat bermanfaat bagi pengembangan fungsi sistem (diseminasi) teknologi.Maskipun demikian, harus dipahami bahwa, desentralisasi hanyalah sekadar alat, dan bukannya tujuan akhirnya.Artinya, desen-tralisasi bukanlah satu-satunya alat untuk mengem-bangkan fungsi diseminasi teknologi.

4 Responses to “Intregritas penyuluh pertanian”


  1. 1 soni Juli 23, 2010 pukul 2:14 am

    salam kenal.. saya soni dari tarakan. saya mau numpang bertanya pak.
    dimana ya tempat pelatihan penyuluh pertanian untuk swasta(non-pns)??. karena saya saat ini bkrja di lab.penyuluhan pertanian universitas borneo tarakan.
    saya mohon saran dari bapak. terima kasih sebelumnya…
    salam…

  2. 3 Saung Tani Oktober 9, 2010 pukul 4:41 pm

    Tantangan bagi penyuluhan ke depan makin berat,petani semakin pintar sementara kita dituntut bukan hanya meningkatkan produksi saja akan tetapi bagaimana ke depan kita dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

    • 4 Azis Turindra Oktober 12, 2010 pukul 12:17 pm

      Selain itu dibutuhkan komunikasi yang intens antara pembuat kebijakan dengan pelaksana kebijakan mengingat pada saat ini kebjakan di atas kertas dengan pelaksanaan tidak dapat di tangkap dengan benar, sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan sangat sulit, Salam kenal terima kasih te;lah berkunjung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: