3 kelompok penyuluh pertanian

Dalam perkembangannya, kegiatan penyuluhan pertanian tidak hanya dilakukan oleh penyuluh yang berstatus PNS, tetapi juga dilakukan oleh perguruan tinggi, swasta, LSM, dan penyuluh sukarela.Keberadaan penyuluh yang beragam seperti itu, dalam UU No. 16 Tahun 2006 dikukuhkan dalam 3 (tiga) kelompok penyuluh pertanian, yaitu:

(a)Penyuluh Pertanian Pegawai Negeri (PNS)

(b)Penyuluh Pertanian Swasta, yang diangkat oleh perusahaan swasta termasuk LSM

(c)Penyuluh Pertanian Swadaya, yang diangkat oleh masyarakat sendiri.

(1)Penyuluh Pertanian Pegawai Negeri (PNS)

Penyuluh pertanian, mulai dikenal sejak tahun 1970, bersamaan dengan dikembangkan-nya konsep Catur Sarana Unit Desa dalam pelaksanaan BIMAS Nasional Yang Disempurnakan (BNYD).

Dalam perkembangnnya, sejak pelaksanaan proyek NFCEP di tahun 1976, dikenal adanya 3 (tiga) penyuluh pertanian, yaitu:

(a)Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di setiap Wilayah Kerja Penyuluhan Pertanian (WKPP)

(b)Penyuluh Pertanian Madya (PPM) yang bertugas di setiap balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan di Kabupaten.

PPM dibedakan antara PPM Programer dan PPM Supervisor

(c) Penyuluh Pertanian Spesialis (PPS) yang bertugas di Kabupaten/Kota, Provinsi, BIPP, dll.

PPS, sesuai dengan bidang keahlian, dibedakan dalam: PPS Agronomi, PPS Ilmu Tanah/Pemupukan, PPS Perlindungan Tanaman, PPS Agro-ekonomi dan PPS Penyuluhan.

Dibanding dengan PNS yang lain di jaliur struktural, para penyuluh (PPL, PPM, dan PPS) merupakan tenaga fungsional yang secara teratur memperoleh pelatihan untuk peningkatan kemampuan dan profesionalismenya. Sayangnya, pengakuan pemerintah terhadap tenaga fungsional dinilai lebih renbdah dibanding tenaga struktural.Oleh sebab itu, banyak di antara mereka yang berusaha pindah ke jalur struktural.

Di pihak lain, karena mutunya relatif lebih baik dibanding tenaga struktural, banyak di anatranya yang diangkat/dipindahkan sebagai pejabat strukutral.Karena itu, para penyuluh yang hingga sekarang masih berstatus tenaga fungsional pada umumnya tidak memenuhi kualifikasi sebagai penyuluh yang profesional.

(2)Penyuluh Pertanian Swasta

Penyuluh Pertnaian Swasta adalah penyuluh pertanian yang diangkat oleh perusahaan swasta atau LSM.

Berbeda dengan penyuluh PNS yang lebih memusatkan kegiatannya pada penyam-paian kebijakan dan rekomendasi teknis yang diberikan oleh institusi pemerintah, Penyuluh Swasta lebih banyak menyuluh/memasarkan inovasi (produk, alat/mesin pertanian) yang ditawarkan oleh perusahaan tempat ia bekerja.Karena itu, penyuluh swasta sering dinilai tidak layak disebut penyuluh, melainkan sekadar tenaga penjualan.

Sementara itu, penyuluh LSM lebih banyak melakukan kegiatan pengorganisasian masyarakat, pendampingan dan advokasi; sehingga (terutama sebelum era reformasi) sering dianggap musuh/lawan yang tidak disukai/dicurigai birokrasi.

Berbeda dengan sikap/persepsi kalangan birokrasi, penyuluh swasta/LSM justru semakin disukai oleh masyarakat (petani) karena:

(a)Lebih mencair dalam arti menempatkan diri setara dengan masyarakat

(b)Inovasi/informasi yang diberikan lebih mengacu kepada kebutuhan masyarakat

(c)Lebih beremphati dan memiliki ketrampilan berkomunikasi yang lebih baik

(d)Bersifat menawarkan alternatif, dan tidak menggurui dan atau memerintah/ mengancam

6 Responses to “3 kelompok penyuluh pertanian”


  1. 1 panggilakuayukindah Juni 21, 2010 pukul 5:15 am

    sebagai penyuluh apa yang mesti kita lakukan apabila menghadapi kelompok laggard

    • 2 Azis Turindra Juni 21, 2010 pukul 9:45 am

      sebelumnya terima kasih telah berkunjung di blog ini, Sebagai seorang penyuluh tentunya kita harus mampu mengakomodasi berbagi kepentingan dari petani yang kita hadapi dilapang. Akomodasi juga berarti usaha proses di mana individu atau kelompok saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Interaksi akomodasi dapat juga dikatakan sebagai bentuk penyelesaian konflik dengan tujuan untuk meredakan tekanan pihak. Menurut Tadjudin (2000: 82) akomodasi adalah suatu tindakan untuk meredakan tekanan pihak lain dengan cara menempatkan kepentingan pihak lain itu di atas kepentingannya sendiri. Tindakan ini lazimnya diambil oleh pihak yang lebih lemah dalam suatu konflik. Interaksi jenis ini dapat mempercepat maupun memperlambat proses adopsi inovasi, tergantung pada pihak mana yang menyesuaikan diri. Sebagaimana telah dipaparkan di atas, apabila pihak yang tidak setuju atau menolak inovasi (laggard) adalah orang yang dituakan, terkemuka dan memiliki pengaruh maka kemungkinan yang terjadi adalah proses difusi inovasi menjadi terhambat atau bahkan tidak berjalan, sebagai akibatnya pengadopsian inovasi bisa saja gagal. Hal ini dikarenakan akomodasi terjadi pada pihak petani atau masyarakat kebanyakan. Sedangkan, apabila pihak yang menolak inovasi (laggard) adalah masyarakat atau petani biasa, bisa saja suatu saat karena tekanan sosial atau karena sebagian besar petani disekitarnya telah mengadopsi inovasi maka ia juga pada akhirnya mengadopsi walaupun sudah sangat terlambat.

  2. 3 adeliruspitaaa Juni 21, 2010 pukul 5:52 am

    PERLU GA SIH SEBENARNYA DIBUAT KELOMPOK DALAM PENYULUHAN??

  3. 5 dinar Oktober 10, 2011 pukul 12:22 pm

    penjelasan mengenai penyuluh swadaya ny mana ya?saya lg nyari sejarah perkembangan penyuluh swadaya pertanian..
    makasih,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: