Kemandirian petani

Ada tiga kemandirian yang perlu dimiliki oleh kelompok tani yakni: 1. Kemandirian Intelektual, 2. Kemandirian Managerial, 3). Kemandirian Material.

Pertama, kemandirian intelektual. Pada kemandirian ini selaku pembina lapangan sifatnya hanya sebagai penyampai baik yang menyangkut anjuran teknis maupun kebijakan pemerintah yang ada, maka kelompok tani memang yang bisa mengambil keputusan sendiri. Karena bagaimanapun baiknya menurut aparat Pembina selaku petugas lapangan tidak boleh intervensi, bahkan sesuai dengan Undang-undang Nomor 16 petugas tidak dibenarkan menyampaikan rekomendasi yang belum pasti kebenarannya.

Bahkan kalau sampai terjadi rekomendasi/anjuran teknis merugikan petani maka petugas tersebut bisa dijatuhi sangsi, baik sangsi administratif maupun sangsi lain sesuai tingkat kesalahan yang dilakukan. Karena resiko dalam pengambilan keputusan kelompok tani menjadi resiko yang harus dan pasti ditanggung petani itu sendiri.

Kedua, kemandirian managerial. Kemandirian managerial di sini kelompok tani telah mampu melakukan pembagian tugas di antara masing-masing pengurus yang ada. Yang dalam jajaran birokrasi biasa disebut Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) di masing-masing pengurus harian kelompok tersebut bidang-bidang atau seksi-seksi telah dijabarkan dengan jelas dan terinci.

Dengan demikian tidak tersentral pada ketua kelompok tani saja segala kegiatan yang telah disepakati dalam kelompok tani, terutama dalam pelaksanaan di lapangan. Walaupun pada saat tertentu memang peran ketua kelompok tani sangat diperlukan, misalnya dalam memimpin dan menentukan keputusan yang sangat pelik, bahkan dalam menentukan pilihan sangsi yang mungkin dilanggar oleh anggotanya sendiri terutama yang masih ada ikatan keluarga.

Ketiga, kemandirian material. Dalam kemandirian material ini kelompok tani telah mampu mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia yang ada di lingkungan. Mulai dari penentuan dan pengelolaan produk utama yang menjadi pilihan kelompok tani beserta anggotanya.

Termasuk dalam pemilihan dan penentuan produk sampingan bahkan pengelolaan limbah pertanian dalam arti luas sampai mampu memasarkan. Sehingga dalam kemandirian ini kelompok tani bisa menghitung kebutuhan biaya yang dibutuhkan mulai persiapan sampai panen selesai, misalnya memilih budidaya cabe, maka di situ sudah bisa dihitung biaya yang harus dikeluarkan setiap pohonnya. Sehingga kalau ingin mendapatkan untung, maka nilai jual produksi hasilnya harus di atas nilai biaya produksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s