Tanaman bersiklus hidup pendek lebih tahan terhadap pemanasan global daripada yang bersiklus hidup panjang

Teori Charles Darwin menyebutkan bahwa evolusi terjadi secara terus menerus. Sementara itu, ilmuwan UC Irvine telah menemukan bahwa tanaman dengan siklus hidup yang pendek lebih dapat menyesuaikan diri dan berevolusi terhadap perubahan iklim hanya dalam beberapa tahun.
Penemuan ini menjelaskan bahwa tanaman yang cepat tumbuh seperti rumput-rumputan lebih dapat menyesuaikan diri dengan pemanasan global daripada tanaman yang pertumbuhannya lambat seperti pohon berkayu. Suatu fenomena yang dapat menyebabkan perubahan dalam kehidupan tanaman di bumi pada masa yang akan datang.
“Beberapa spesies cukup cepat berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan,” kata Arthur Weis, Profesor Ekologi dan Biologi Evolusi. “Pemanasan global mungkin meningkat sehingga spesies tertentu mengalami kesulitan menyesuaikan diri. Tanaman dengan siklus hidup yang panjang akan memiliki sedikit generasi yang dapat berkembang,” lanjutnya.
Hasil studi ini disampaikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, 8 Januari 2007.
Weis bersama peneliti lain, Steven Franks dan Sheina Sim mempelajari lahan mustard (sejenis sayuran), dimana tanaman rumput-rumputan itu ditemukan di sepanjang Nortern Hemisphere (Afrika). Pada waktu yang sama, di dalam ruang kaca mereka menanam tanaman mustard dari bibit yang diambil di dekat kampus UCI pada musim semi tahun 1997, sebelum musim kering, dan bibit yang diambil setelah musim kering di musim dingin pada tahun 2004.
Bibit tidak aktif tetapi tetap hidup untuk beberapa tahun dan tumbuh lagi dengan sedikit air dan cahaya. Tanaman dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing menerima jumlah air yang berbeda dalam kisaran pola hujan dari kering sampai kondisi basah. Dari semua perlakuan, kelompok generasi di bagian kering lebih awal berbunga.
Perubahan genetik kemudian diketahui dengan percobaan yang menyilangkan generasi nenek moyang spesies tanaman (ancestors) dan keturunan spesies tanaman itu (descendents). Sebagai perkiraan, persilangan intergenerasi dapat terjadi pada saat berbunga.
“Curah hujan di awal musim dingin tidak banyak berbeda dengan selama musim kering, tetapi musim dingin dan semi biasanya juga kering. Pola hujan ini memberikan tekanan tertentu pada tanaman untuk lebih awal berbunga, khususnya tanaman tahunan seperti hamparan mustard,” kata Franks. “Selama musim kering, perkembangan penuh terjadi di awal produksi bibit sebelum tanah mengering, sedangkan perkembangan yang lambat menjadi layu sebelum mereka menjadi bibit,” lanjutnya.
Teknik perkembangbiakan ancestors dan descendents, pada waktu yang sama membuat ilmuwan menyimpulkan bahwa perubahan waktu berbunga merupakan fakta perubahan evolusi, bukan contoh reaksi terhadap perubahan kondisi cuaca. Metode ini pertama dilakukan oleh Albert Bennett, Professor Ekologi dan Biologi Evolusi yang juga Dekan Sekolah Ilmu Biologi di UCI, dimana telah menggunakan bakteri sebagai studi pertama untuk menyusun pemanfaatan penuh dengan spesies tanaman.
Bennet dan koleganya membekukan keturunan E. Coli, sehingga mereka dapat mengevaluasi evolusi adaptasi bakteri setelah pembiakannya dalam temperatur yang ditingkatkan untuk ribuan generasi.
Sekarang, Weis sebagai Ketua Proyek Baseline mengumpulkan dan menyimpan bibit dari populasi tanaman semasanya. Pada periode waktu dari sekarang, ahli biologi tanaman akan dapat menghidupkan kembali generasi nenek moyang ini dan membandingkannya dengan keturunannya. Ahli biologi pun dapat mengukur seberapa besar tanaman menyesuaikan diri dan berevolusi dengan perubahan iklim serta ketepatan evolusi berdasarkan genetik.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa pemanasan global merubah pola sirkulasi udara di atas Samudera Pasifik dan iklim yang memperkirakan frekuensi dan fluktuasi ekstrim hujan sepanjang daratan akan mempengaruhi kehidupan tanaman.
“Jika kita pergi keluar dan mengumpulkan sejumlah bibit dan membekukannya, maka benih itu akan menjadi sumber generasi ilmuwan ke depan,” kata Weis. “Karena pemanasan global, ledakan evolusi terjadi. Jika kita bertindak sekarang, kita akan memiliki peralatan penting untuk membandingkan di masa depan bagaimana spesies merespon perubahan iklim.”
Sumber: Eurekalert

2 Responses to “Tanaman bersiklus hidup pendek lebih tahan terhadap pemanasan global daripada yang bersiklus hidup panjang”


  1. 1 selly Juni 11, 2010 pukul 6:41 am

    referensi yg bagus, trimakasih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: