Kelompok Organisasi dan Kempemimpinan (studi terhadap KOKITA FM)

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kumpulan orang-orang atau biasanya disebut dengan sekerumunan bukanlkah dinamakan sebuah kelompok, ataupun organisasi. Pada hakikatnya keruman tersebut kita menyebutnya sebagai massa. Massa terbentuk dikarenakan adanya situasi kebersamaan dan juga situasi kebersamaan yang menimbulkan kelompok kebersamaan. Perbedaan yang paling signifikan adalah jika kerumunan tersebut memiliki tujuan tersendiri dan berusaha mencapai tujuan maka bisa dikatakan sebagai kelompok. Sebuah organisasi atau kelompok selalu bergerak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dalam hal ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya adalah sebagai berikut; tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi tugas kelompok, pembinaan dan pemeliharaan, kekompakan kelompok, suasana kelompok, tekanan kelompok, keefktifan kelompok dan adanya agenda terselubung (Mardikanto, 1996).

Kokita FM sebagai sebuah wadah dari mahasiswa Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UNS memberikan tempat bagi mhaswiswa yang mempunyai kesamaan minta bakat dan kemampuan dalam hal bidang penyiaran dan keorganisasian yang ada dalam tubuh KOKITA Fm. KOKITA fm bukanlah sekumpulan massa yang memiliki sifat bertanggung jawab dalam waktu relatif pendek dan kurang terorganisir.
Sebagai sebuah organisasi yang memiliki aturan terorganisir dan sistematis, orang-orang yang berkumpul didalammnya memiliki tanggung jawab, wewenang, interaksi, kepemimpinan, pengambilan keputusan dan program kerja demi mencapai tujuan yang telah direncanakan dan sesuai dengan apa yang diharapkan para anggotanya.
Brown dalam teorinya mengklasifikasikan massa sebagi berikut crown  audience  Casual. Massa yang terbentuk oleh KOKITA FM bersifat casual yang artinya suatu kerumunan massa yang terbentuknya tidak direncanakan terlebih dahulu, karena sebelumnya massa tersebut tergerak dan terbentuk karena adanya penggerak yang sama (audience). Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan dibahas bagaimana kokita fm terbentuk dan masssa yang terbentukk oleh kokita fm.
Karena melalui media siaran maka secara tidak langsung akan ada hubungan yang terjadi antara pihak dalam maupun pihak luar, interkasi yang ditimbulkan akan mengarah ke arah yang positif ataupun negatif bergantung kepada pengelolaan dan penghambilan keputusan dari pihak dalam dan pihak luar.

B. Tujuan
Berbagai persoalan tentunya akan selalu muncul dalam sebauh organisasi atau kelompok oleh sebab itu dalam makalah ini membahas apa yang kita sebut kelompok dan kedinamikaan yang ada dalam kelompok, mengingat hal itu tujuan mempelajri kelompok adiantaranta adalah :
1. Individu tidak mungkin hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan masyarakat
2. Individu tidak dapat bekerja sendiri dalam memenuhi kebutuhannya
3. Perlunya pembagian kerja agar pekerjaan efiseien
4. Masyarakat yang demokratis akan berjalan dengan baik apabila lembaga sosial dapat bekerja dengan efektif
5. Semakin banyak manfaat dari penyelidikan tentang kelompok-kelompok

II. ISI
A. Pengertian Kelompok
Smith (1945) melihat pengertian kelompok dalam sudut padang presepsi dengan menggunakan istilah social group yaitu suatu unit yang terdiri atas beberapa anggota anggota yang mempunyai presepsi bersama tentang kesatuan mereka. Lain halnya dengan Bass menitikbertakan kepada adanya rewarding dari kelompok individu-individu yang ada dalam kelompok. Begitu pula dengan teori-teori yang yang lain yang mendefinisikan kelompok pada sudut pandnag tujuan, interdepesi, interaksi dan sturktur.
Hal ini ternyata berlaku di dalam kokita fm, karena dalam sejarahnya kokita fm terbentuk karena adanya kesamaan presepsi antar anggotanya, dimulai dengan kesamaan presepsi dosen-dosen yang ingin menyumbangkan pemikirannya untuk pengembangan jurusan, dilanjutkan kesamaan presepsi anatara mahasiswa dengan dosen untuuk mewujudkan media yang efektif dalam memeperkenalkan jurusan kepada masayarakat luas. Maka terbentuklah kokita fm sebagai radio komunitas yang mencoba untuk menjembatani antara institusi dan juga masyarakat. Sebagai salah satu produk dari tri darma perguruan tinggi maka kokita fm berusaha mewujudkan apa yang diminta oleh audience yang terbentuk secara tidak sengaja dan terbentuk karena kesamaan gerak.

B. Prespektif Teori tentang Kelompok
Ada banyak teori yang dapat dipadankan dengan terbentuknya suatu kelompok, begitu pula presfektif teori tentang kelompok yang muncul, dimulai dengan teori interaksionis atau teori interaksi, terori presfektif funsional, presfektif teori konflik, teori pertukaran sosial dan teori kogitif. Dalam perjalanannya teori ini terus berkmbang dikarenakan ilmu sosial tidak memiliki batas dan kemampuan manusia dalam sebuah kelompok akan selalu dinamis dan tidak satagnan.
Seperti dalam kasus kokita fm, dalam teori interaksi dijelaskan bahwa orang-orang melakukan interaksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencakup tanda (sinyal), isyarat dan kata-kata. Karena interaksi sosial yang terjadi dalam kelompok ditentukan oleh : 1) karakteristik pelaku-pelakunya, 2). Karakteristik interaksinya dan 3) setting interaksi tersebut. Menurut teori ini organisasi atau kelompok terdiri atas orang-orang yang menghadap keragaman situasi dan masalah yang berbeda-beda. Masalahnya harus dipecahkan dan suatu strategi bersama harus disusun.
Sehingga dalam kehidupan berkelompok seperti halnya yang terjadi di kokita fm maka adanya interaksi-interaksi anggota dimungkinkan ditemukan masalah ataupun inovasi yang dapat memajukan kokita fm, dengan keragaman situasi yang ditemui maka secara tidak langsung akan ditemukan suatu pemecahan atau solusi strategis yang solutif. Sebagai contoh pembuatan program acara baru yang dirundingkan terlebih dahulu atau mengenai jadwal siaran. Pendekatan teori presfektik ini sangat kental.
Dalam presfektik funsional dalam hal ini dilihat dari aspek-aspek yang terdapat dalam kelompok tersebut menurut fungsi-fungsinya, karena menurut pearsons suatu kelompok atau organisasi dapat bertahan dengan memenuhi persayaratan : 1) adaptasi, 2) kemungkinan mencapai tujuan, 3) Integrasi anggota-anggota, 4) kemampuan mempertahankan identitasnya terhadap kegoncangan dan ketegangan yang timbul. Dalam kasus kokita fm para anggota-anggotanya di harapkan dapat beradaptasi dengan lingkungan diluar lingkungan yang biasa yaitu lingkungan pertanian, mereka dihaapkan bisa menyeimbangkan antara dunia siaran dan dunia pertanian (akademis), karena dalam mencapai tujuan yang di inginkan, kokita memliki visi dan misi, sehingga tercipta sense of belong yang mencirikan identitas diri anggota kelompok, dalam hal ini para naggota dapat memperthankan apabila terdapat ketagangan yang timbul.

C. Fungsi Kelompok
Kelompok yang terbentuk tentau saja bukan hanya sebagai wadah saja namun memiliki fungsi yang dirasakan anggota dan juga yang dieasakan oleh kelompok itu sendiri. Sebagai contoh kelompok dapat memberikan kepuasan afektif bagi individu sedangkan fungsi kelompok bagi organisasi sendiri adalah kepuasan pribadi diluar kegiatan organisasi akan terpenuhi, selanjutnya funsi kelompok bagi masyarakat adalah adaya ikatan-ikatan primer seperti lokalisme,komunalisme ataupun kesetiaan pada kerabat, yang terkadang menjadi penghalang terhadap keadilan dan perkembangan.
Kokita fm menjalankan fungsinya sebagai sebuah organisasi yang menaungi orang-orang dengan minat yang sama terhadap dunia brodcast, dengan melihat hal demikian maka fungsi kelompok bagi individu sudah tercipta di kokta fm begitu juga fungsi kelompok dalam organisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan, lalu bagaiman dengan fungsi kokita fm bagi masyarakat? Sebagai media siaran kokita fm dengan sendirinya membentuk apa yang dinamakan audience atau pendengar, hal demikian di tindak lanjuti dengan meberi panggilan kepada audince dengan sebutan ”teman kita”. Dengan demikan kokita sudah memberikan apresiasi dan menjalankan fungsinya sebagi bagian dari masyarakat.
Bagaimana dengan Tim yang terbentuk di kokita fm yang juga bagian yang berpengaruh dalam perjalanan kokita, seperti dalam pengertiannya tim adalah seperangkat interaksi hubungan antar pribadi yang tersusun untuk mencapai tujuan yang mapan dengan ciri-ciri sebagai berikut tiap-tiap anggpta menyadari interdependensi yag positif untuk menapai tujuan bersama, mempunyai peran danfungsi spesifik, dan mempunyai limited life span keanggotan. Jika dikualifikasikan tim menjadi problem solving team, Specaial Purpose team dan Self Managing Team,kenyataan yang terjadi dalam kokita fm sebagai problem solving team adalah mereka yang duduk di jajaran petinggi seperti, general managaer, HRD, PD, dan juga kesekretarisan. Sedangkan speceial purpose team dan self managing team yang ada dikokita diwakili oleh team-team yang dibentuk oleh atasan seperti divisi PR, divisi Moa dan Divisi Tekpro.
Produktivitas kelompok diukur dengan bagaimana kelompok dapat menyelseaikan tujuannya, semakin produktif suatu kelompok maka semakin berkembang suatu kelompok itu karena produktifitas diukur dengan tugas yang dikerjakan, sumberdaya dan ada dan juga proses yang terjadi, dalam kasus kokita fm dapat dilihat dengan munculnya acara-acara baru atau program baru yang dapat menarik para audince dan audice menyukainya.

D. Struktur Sosial Kelompok
Bisa dikatakan sebai pola hubungan anatar anggoa-anggota suatu masyarakat atau suatu kelompok, dimana teknik studi diterpkan untuk menyelidii hubungan-hubungan afektif dalam kelompok adalah sosiometri, bagaimana dengan metode yang digunakan, metode yang digunakan adalah metode sosiometri yang dugunakan untuk meneliti kelompok-kelompok yang relatif kecil dengan menggunakan data dari kuisioner sosisometri, teknik ini dukemukakan oleh Morano untuk melihat ukuran berteman. Sedangkan untuk melihat baik buruknya interkasi, dilihat daru berbagai macam ukuran diantaranya adalah frekuensi interaksi, intensitas interaksi dan pluralitas interakasi.
Yang terjadi di kokita fm memang belum diterapakan metode tersebut namun pada dasarnya sebagai bagian dari masyarakat, kokita membuka sebuah acara yang ditujukan untuk para audince yang mempunyai pendapat demi perkembangan kokita kedepan. Usul dan kritik yang diterima menjadi sebuah indikator bagaimana kokita merupakan sebuah strktur yang tidak terlepas dari para audiencenya.
Ukuran-ukuran inilah yang dilihat kokita dalam peningkatan produktivitasnya, sebagai contoh kokita melakukan evaluasi terhadap siapa penyiar yang disenangi atau yan menjadi favorite dari audience dan siapa yang tidak disukai, saran yang masuk inilah yang digunakan kokita untuk berkembang.

E. Dinamika Kelompok
Dinamika ditunjukan dengan adanya interaksi dan interdependesia antara anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok yang lain secara timbal balik dan atara anggota dengan kelompok secara keseluruhan. Sedangkan dinamika kelompok adalah suatu kelomok yang teratur dari dua individu atau lebih mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota yang satu dengan yang lain. Persoalan yang timbul dalam dinamika kelompok diantaranya kohesi, motif, struk pimpinan dan perkembangan kelompok. Pendekatan-pendekatan diinamika kelompok diantaranya pendekatan oleh Bsales dan Homans, pendekatan oleh Stogdill, Pendekatan oelh sigmund Freud dan Sheidlinger dan pendekatan oleh Yennings dan Morano.
Jika melihat kasusa dalam kokita fm maka dijabarkan sebagai berikut pendekatan yang terjadi dalam kokita fm adalah pendekatan yang diakukan oleh simund freund dan scheidlinger dimana kelompok dapat berbentuk apabila didasarkan pada kesamaan motif antar anggota kelompok. Karena dalam setiap kelompok diperlukan kesatuan agar kelompok tersebut dapat berkembang, kesatuan tersebut dapat diwujudkan apabila tiap-tiap anggota kelompok melaksanakan identifikasi bersama-sama.
Kesamaan motif diantara anggota-anggota kokita fm terhadap dunia broadcast mewujudkan suatu kesatauan yang diwujudkan dengan dibentuknya divisi-divisi yang dapat menggerakkan kokita fm dengan mengadakan identifikasi terlebih dahulu secara bersama apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan. Kesatuan yang terbentuk dapat membuat kokita fm berkembang.
Begitu juga dengan audience yang terbentuk (Teman kita) yang memliki motif sama menjadi bagian dari kokita fm dengan beratensi dan juga memberikan sumbangan baik itu berupa kritik dan saran yang membangun.

F. Pengambilan Keputusan Kelompok
Pengambilan keputusan yang efektif dapat mencerminkan sebuah kedianamisan yang terjadi dalam kelompok, kelompok yang efektif berarti kelompok tersebut dapat dikatakan dinamis, pengambilan keputusan dalam berbagai kelompok dapat berpengaruh kepad kelangsungan hidup suatu kelompok dan juga suasana kelompok. Ada banyak cara dalam pengambilan kelompok melalui top down atau up down, sedangkan yang mempertinggi efektivitas pengambilan kelompok adalah interpendency positif, individual accountabilit, promotive interaction, socially skilled group members, group processing. Faktor yang menghambat diantaranya adalah Lack of Group Maturity, Uncritically giving One’s dominat responses, onflicting Goals of group members, Failure to communicate and untillize Information, Egocentrism of group members, lackof sufficient heterogenity, inappropriate group size, dan lack of sufficient time.
Dalam teori metode pengambilan keputusan diantaranya adalah otoritas tanpa diskusi kelompok, otoritas setelah mengadakan diskusi kelompok, keputusan diambil oleh seorang ahli, dengan rerata pendapat individu, keputusan diambil oleh minoritas, voting, dan kesepakatan bersama.
Selama ini dalam pengambilan keputusan yang terjadi di kokita fm sebagian besar dilakukan dengan kesepakatan bersama yang artinya konsekusni dari kesepakatan bersama menjadi tanggung jawab bersama tidak dilimpahkan kepada yang lain atau hanya ketua saja. Bagaimana keputusan tersebut di buat dapat dilihat pada tabel berikut :
Keterangan
1 Metode Pengambilan keputusan yang biasa diambil menurut urutan 1. Kesepakatan bersama
2. Otoritas telah mengadadakan diskusi
3. Voting
2 Faktor Penghambat Pengambilan keputusan yang dijumpai 1. Failure to communicate and untilize information
2. Kurangnya heterogenitas
3. Waktu yang tidak cukup tersedia

G. Kohesi Kelompok
Kohesi sendiri didefinisikan sebagai bagaimana para anggota kelomopok salin menhyukai dan mencintai satu dengan lainnya, dimana faktor pengikat arti kohesi adalah daya tarik kelompok, moral/tingkat motivasi dari masing-masing anggota dan koordinasi pada usaha-usaha anggota kelompok. Adapula faktor yang memppertinggi tinggi rendahnya kohesi antara lain kesamaan sikap, nilai-nilai, sifat-sifat pribadi dan sifat-sifat demografis.
Kokita fm sebagai sebuah organisasi memiliki daya terik tersendiri kerena memiliki keunikan yang tidak dimiliki organisasi yang lain, didalam tubuh kokita fm terjadi kohesi yang tinggi karena para anggotanya memiliki motivasi yang tinggi, pengukurannya dilihat dari tingkat ketertiban para penyiar dalam melakukan siaran, hal ini diitunjang oleh para anggotanya yang memliki kesamaan sikap dan juga secara demografis tidak dipisahkan jarak yang jauh (tempat tinggal sebagian dari kelompok kos-kosan) sehingga memilki suatu kesamaan pandangan dan nilai-nilai ang dianut dan di junjung tinggi
III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kesamaan motif diantara anggota-anggota kokita fm terhadap dunia broadcast mewujudkan suatu kesatauan yang diwujudkan dengan dibentuknya divisi-divisi yang dapat menggerakkan kokita fm dengan mengadakan identifikasi terlebih dahulu secara bersama apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan. Kesatuan yang terbentuk dapat membuat kokita fm berkembang
2. Kokita fm sebagai sebuah organisasi memiliki daya tarik tersendiri kerena memiliki keunikan yang tidak dimiliki organisasi yang lain, didalam tubuh kokita fm terjadi kohesi yang tinggi.
3. Ukuran-ukuran inilah yang dilihat kokita dalam peningkatan produktivitasnya, sebagai contoh kokita melakukan evaluasi terhadap siapa penyiar yang disenangi atau yan menjadi favorite dari audience dan siapa yang tidak disukai, saran yang masuk inilah yang digunakan kokita untuk berkembang
4. Audience yang terbentuk (Teman kita) yang memliki motif sama menjadi bagian dari kokita fm dengan beratensi dan juga memberikan sumbangan baik itu berupa kritik dan saran yang membangun

B. Saran
1. Perlu adanya suatu usaha yang dilakukan oleh kokita fm seperti pembuatan kuisioner sebagai ukuran dalam produktivitas kinerja para anggotanya
2. Perlu diadakannya suatu simulasi untuk para anggota bertujuan untuk meningkatkan kohesi antar sesama dan memperkecil kemungkinan konflik sehingga selanjutnya dalam pengambilan keputusan dapat meminimalisir adanya kebuntuan.

REFERENSI

Mardikanto, T. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
Bahan-bahan Ajar Mata kuliah Kelompok organisasi dan Kepemimpinan
Keluarga Besar Kokita FM

0 Responses to “Kelompok Organisasi dan Kempemimpinan (studi terhadap KOKITA FM)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: