redefenisi penyuluhan Pertanian

Telaahan beragam pengertian yang terkandung dalam istilah “penyuluhan” sebagaimana dikemukakan di atas, memberikan pemahaman bahwa penyuluhan dapat diartikan sebagai: proses perubahan social, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan masyarakat melalui proses belajar bersama yang partisipatip, agar terjadi perubahan perilaku pada diri semua stakeholders (indiividu, kelompok, kelembagaan) yang terlibat dalam proses pemba-ngunan, demi terwujudnya kehidupan yang semakin berdaya, mandiri, dan partisipatip yang semakin sejahtera secara berkelanjutan.

Dalam kepustakaan yang selama ini dapat dijumpai, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan pertanian diartikan sebagai pendidikan luar-sekolah yang ditujukan kepada petani dan masyara-katnya agar dapat bertanii lebih baik, berusa-hatani yang lebih menguntungkan, demi terwujudnya kehidupan yang lebih sejahtera bagi keluarga dan masya-rakatnya (Wraatmadja, 1976; Totok Mardikanto dan Sri Sutarni, 1981; Mardikanto, 1993; Departemen Pertanian, 2002).

Pemahaman tersebut tidak seluruhnya salah, tetapi seiring dengan terjadinya perubahan-perubahan kehidupan masya-rakat global dan tuntutan pembangunan pertanian, baik yang menyangkut kontek dan kontennya. (Saragih, 2002) dinilai penting untuk melakukan “redefinisi” yang menyang-kut pengertian “penyuluhan pertanian”
Perubahan-perubahan tersebut telah melanda semua “stakeholder” pembangunan pertanian, yang membawa konse-kuensi-konsekuensi terhadap perubahan perilaku masing-masing

Di lain pihak, telaahan terhadap pengertian “penyuluhan” sebagaimana dikemukakan di atas, juga telah berkembang dari tidak sekadar “penyebar-luasan informasi/inovasi” melainkan telah berkembang sebagai proses perubahan sosial, ekonomi dan politik.
Karena itu, pengertian “penyuluhan pertanian” akan lebih tepat jika diartikan sebagai: proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan semua “stakeholders” agribisnis melalui proses belajar bersama yang partisipatip, agar terjadi perubahan perilaku pada diri setiap individu dan masyarakatnya untuk mengelola kegiatan agribisnisnya yang semakin produktif dan efisien, demi terwujudnya kehidupan yang mandiri, dan semakin sejahtera secara berkelanjutan

Perubahan terhadap pengertian penyuluhan menjadi rumusan seperti di atas, dirasakan penting, karena:

1) penyuluhan pertanian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembangunan/ pengembangan masyarakat dalam arti luas.

2) dalam praktek, pendidikan selalu dikonotasikan sebagai kegiatan pengajaran yang bersifat “menggurui” yang membedakan status antara guru/pendidik yang selalu “lebih pintar” dengan murid/peserta didik yang harus menerima apa saja yang diajarkan oleh guru/pendidiknya.

3) stakeholders agribisnis tidak terbatas pada petani dan keluarganya

4) penyuluhan pertanian bukanlah kegiatan karitatif yang menciptakan ketergantungan

5) pembangunan pertanian harus selalu dapat memperbaiki produktivitas dan pendapatan petani secara berkelanjutan.

0 Responses to “redefenisi penyuluhan Pertanian”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • Efek Anak Sekolah Terlalu Dini
    Selama mengajar di sekolah Alam Bekasi saya menemukan berbagai macam tipe anak, ada anak yang aktif, pendiam, atau yang biasa saja. Namun kadangkala saya berfikir juga tentang riwayat pendidikan si anak di keluarganya apakah dia pernah di porsir atau memang baru pertama kai sekolah, iseng-iseng saya baca tulisan dan sepertinya tulisan ini bisa jadi referensi […]
    Azis Turindra
  • Sebuah Renungan tentang kecerdasan
    Dipapan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa tanpa pemilik ditepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. Kemudian saya bercerita tentang 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Anak ke 1 : dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, […]
    Azis Turindra
  • Sekolah Alam Turindra Nusantara (SATURNUS)
    Sekolah Alam Turindra Nusantara disingkat SATURNUS merupakan pengembangan dari metode sekolah alam yang dicetuskan oleh Lendo Novo pada tahun 1998. Sekolah ini memiliki visi 4 pilar yaitu ketaqwaan, kepemimpinan, entreprenuer dan keilmuan. Adapun misi dari SATURNUS adalah sebagai berikut 1. Membentuk ketaqwaan melalui lingkungan dan kebiasaan beribadah serta […]
    Azis Turindra

%d blogger menyukai ini: