Arsip untuk Desember, 2009



Pembiakan Vegetatif

Cara bibit sambung yang baik adalah dari sambungan atas tumbuh tunas dan kalau tunas tumbuh pada batan bawah umbuh maka hanya dipatahkan. Salah satu meningkatkan hasil panen ubi kayu adalah dengan system ubi kayu mukibat yaitu system penanaman ubi kayu biasa disambung dengan ubi kayu karet (Falkon,1993).
Pembiakan aseksual merupakan dasar dari pembiakan vegetatifyang memungkinkan tanaman memulihkan dirinya dengan regenerasi jaringan-jaringan dan bagian-bagian yang hilang. Pada banyak tanaman, pembiakan vegetatifmeupakan benar-benar proses alami, pada tanaman lain sedikit banyak merupakan buatan. Cara-cara pembiakan vegetatif sangatlah banyak dan pemilihannya tergantung pada tanaman dan tujuan pembiakan (Hardjadi, 1993).
Keuntungan-keuntungan gen pembiakan vegetatif segera dapat kita lihat hasilnya. Bahan-bahan heterosigous dapat lebih cepat dari pembiakan dengan benih, karena masalah dormansi benih dapat dihilangkan sama sekali dan status juvenil diperpendek ( Hardjadi, 1993).
Penyatuan antara batang bawah dan batang atas dapat dilaksanakan dengan baik kalau tidak ada keasalahan teknis pelaksanaan, misalnya harus memakai pisa yang tajam, tidak kemasukan air, alat-alat yang digunakan tidak mengandung hama ataupun penyakit. Disamping hal di atas maka keberhasilan perlakuan sangat tergantung dari keterampilan dan ketekunan pekerja. Penyambungan dan okulasi akan berhasil jika batang atas dan bawah berada pada satu spesies atau satu genus dalam satu famili yang sama (Heddy, 1994).
Singkong sambung memang agak rumit tetapi hasilnya sangat memuaskan, karena yang disambung adalah singkong yang berbuah banyak dengan singkong yang berbuah sedikit . Biasanya singkong yang berbuah banyak adalah singkong yang tidak bisa dimakan contohnya singkong karet. Antara singkong yang enak hasilnya melimpah dan enak untuk dimakan. Untuk keperluan menyambung singkong yang enak sebagai batang bawah sedangkan bagian atas adalah singkong karet, kedua batang ini diambil batang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda namun masih bergetah supaya mudah menyambung potongan antara ruas atas dan ruas bawah, dan langsung disambungkan kemudian diikat dengan raia (Lingga, 1994).
Ada beberapa metode penyambungan yang pertama bentuk sambungan pelana, dimana dalam bentuk ini dua sisi dalam satu batang dipotong miring dari arah luar atau epidermis menuju ke titik sentral dan batang yang satu lagi pemotongan kemiringan merupakan kebalikan dari batang yang satunga karena akan memudahkan dalam penyambungan sehingga lapisan kambium dari kedua jenis batang tadi dapat saling berlekatan. Dan untuk memudahkan agar berlekaltan dalam penyambungan biasa, pemotongan batang yang satu condong atau miring ke kanan dan batang lainnya condong ke kiri dan proses penyambungan sama dengan bentuk sadle graft (bentuk pelana) (Mahl,1992)
Penggunaan batang buah yang beragam dapat mempengaruhi keserasian dengan batang atas sehingga kualitas buah yang dihasilkan beragam, dan akibatnya sulit bersaing di pasar internasional. Dari sifat mutu Jeruk yang diamati hanya warna kulit buah dan kadar air buah yang tidak dipengaruhi oleh batang bawah (Wuttcher dan Shull, 1992)
Grafting yang lebih dikenal dengan istilah menyambung dapat didefinisikan sebagai prosedur menyatakan 2 bagian. Tanaman mejadi satu sehingga kedua tanaman tersebut tumbuh menjadi satu tanaman. Bagian atas disebut suon/ keturunan yang akan diambil buah/daunnya. Bagian bawah disebut rootstoch akan menjadi penyuplai nutrisi dan air bagian atas. Penyambungan terjadi waktu kedua bagian ini bertemu. Grafting ini dapat dilakukan pada pohon buah-buahan/tanaman ketela pohon (Cooper,1997).
Grafting atau ent merupakan istilah asing yang sering kita dengar, pengertiannya ialah menggabungkan batang bawah dengan batang atas dari tanaman yang berbeda sedemikian rupa sehingga tercapai persenyawaan, kombinasi ini akan terus membentuk tanaman baru (Wudiyanto, 1992)
Menyambung adalah menumbuhkan atau menjadikan satu pohon dari dua atau beberapa pohon. Pekerjaan ini dilakukan karena salah satu dari bagian itu sangat berharga. Misalnya tanaman yang satunya tahan terhadap penyakit akar sedangkan tanaman yang lainnya mempunyai buah yang berkualitas baik dan banyak. Dengan menyambung bagian-bagian dari dua tanaman itu dimaksudkan untuk memperoleh tanaman baru yang tahan terhadap hama dan penyakit serta mendatangkan buah yang berkualitas dan banyak (Tohir, 1993).
Salah satu cara untuk memperbaiki atau mengubah varietas yang telah ada dan sekaligus memperbaiki arstektur tanaman agar mudah proses pemanenan tanpa membongkar tanaman secara keseluruhan dapat ditempuh dengan cara working, dengan cara melakukan pangkas berat pada tanaman yang telah ada tersebut dan berfungsi sebagai batang bawah kemudian dilakukan sambung atau temple pucuk dengan varietas yang dikehendaki (Young dan Soult, 1994).

Cooper, E. 1997. agriscience Fundamentals and aplication. Delman publisher. New york.
Falkon, Walter p. 1993. Ekonomi Ubi Kayu di Jawa Barat. Sinar Harapan. Jakarta.
Hardjadi, S.S. 1993. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta.
Heddy, S., W.H. Susanto dan M. Kurniati.1994. Pengantar Produksi Tanaman dan Penanganan Pasca Panen. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Lingga P. 1994. Bertanam Ubi-ubian. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mahl, Stede I.P. 1992. Plant Prepogation. New York John Wiley Inc. USA
Tohir. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. UGM press. Yogyakarta.
Wudiyanto, Rini.1992. Membuat stek,cangkok, dan okulasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wuttcher, H.K and Shull.1992. Yield, Fruit, Quality, Growth and Leaf Nutrient levels of 14 years old gape fruit citrus paradisi mact tress 21 rootstock. J.Amer.Soc, Hort.Sci.
Young,MS. Dan Soult, J. 1994. Propagation Of Fruits Crops Circular. University Of Florida. Florida.

Bibit Sambung

Cara bibit sambung yang baik adalah dari sambungan atas tumbuh tunas dan kalau tunas tumbuh pada batan bawah umbuh maka hanya dipatahkan. Salah satu meningkatkan hasil panen ubi kayu adalah dengan system ubi kayu mukibat yaitu system penanaman ubi kayu biasa disambung dengan ubi kayu karet (Falkon,1993).
Pembiakan aseksual merupakan dasar dari pembiakan vegetatifyang memungkinkan tanaman memulihkan dirinya dengan regenerasi jaringan-jaringan dan bagian-bagian yang hilang. Pada banyak tanaman, pembiakan vegetatifmeupakan benar-benar proses alami, pada tanaman lain sedikit banyak merupakan buatan. Cara-cara pembiakan vegetatif sangatlah banyak dan pemilihannya tergantung pada tanaman dan tujuan pembiakan (Hardjadi, 1993).
Keuntungan-keuntungan gen pembiakan vegetatif segera dapat kita lihat hasilnya. Bahan-bahan heterosigous dapat lebih cepat dari pembiakan dengan benih, karena masalah dormansi benih dapat dihilangkan sama sekali dan status juvenil diperpendek ( Hardjadi, 1993).
Penyatuan antara batang bawah dan batang atas dapat dilaksanakan dengan baik kalau tidak ada keasalahan teknis pelaksanaan, misalnya harus memakai pisa yang tajam, tidak kemasukan air, alat-alat yang digunakan tidak mengandung hama ataupun penyakit. Disamping hal di atas maka keberhasilan perlakuan sangat tergantung dari keterampilan dan ketekunan pekerja. Penyambungan dan okulasi akan berhasil jika batang atas dan bawah berada pada satu spesies atau satu genus dalam satu famili yang sama (Heddy, 1994).
Singkong sambung memang agak rumit tetapi hasilnya sangat memuaskan, karena yang disambung adalah singkong yang berbuah banyak dengan singkong yang berbuah sedikit . Biasanya singkong yang berbuah banyak adalah singkong yang tidak bisa dimakan contohnya singkong karet. Antara singkong yang enak hasilnya melimpah dan enak untuk dimakan. Untuk keperluan menyambung singkong yang enak sebagai batang bawah sedangkan bagian atas adalah singkong karet, kedua batang ini diambil batang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda namun masih bergetah supaya mudah menyambung potongan antara ruas atas dan ruas bawah, dan langsung disambungkan kemudian diikat dengan raia (Lingga, 1994).
Ada beberapa metode penyambungan yang pertama bentuk sambungan pelana, dimana dalam bentuk ini dua sisi dalam satu batang dipotong miring dari arah luar atau epidermis menuju ke titik sentral dan batang yang satu lagi pemotongan kemiringan merupakan kebalikan dari batang yang satunga karena akan memudahkan dalam penyambungan sehingga lapisan kambium dari kedua jenis batang tadi dapat saling berlekatan. Dan untuk memudahkan agar berlekaltan dalam penyambungan biasa, pemotongan batang yang satu condong atau miring ke kanan dan batang lainnya condong ke kiri dan proses penyambungan sama dengan bentuk sadle graft (bentuk pelana) (Mahl,1992)
Penggunaan batang buah yang beragam dapat mempengaruhi keserasian dengan batang atas sehingga kualitas buah yang dihasilkan beragam, dan akibatnya sulit bersaing di pasar internasional. Dari sifat mutu Jeruk yang diamati hanya warna kulit buah dan kadar air buah yang tidak dipengaruhi oleh batang bawah (Wuttcher dan Shull, 1992)
Grafting yang lebih dikenal dengan istilah menyambung dapat didefinisikan sebagai prosedur menyatakan 2 bagian. Tanaman mejadi satu sehingga kedua tanaman tersebut tumbuh menjadi satu tanaman. Bagian atas disebut suon/ keturunan yang akan diambil buah/daunnya. Bagian bawah disebut rootstoch akan menjadi penyuplai nutrisi dan air bagian atas. Penyambungan terjadi waktu kedua bagian ini bertemu. Grafting ini dapat dilakukan pada pohon buah-buahan/tanaman ketela pohon (Cooper,1997).
Grafting atau ent merupakan istilah asing yang sering kita dengar, pengertiannya ialah menggabungkan batang bawah dengan batang atas dari tanaman yang berbeda sedemikian rupa sehingga tercapai persenyawaan, kombinasi ini akan terus membentuk tanaman baru (Wudiyanto, 1992)
Menyambung adalah menumbuhkan atau menjadikan satu pohon dari dua atau beberapa pohon. Pekerjaan ini dilakukan karena salah satu dari bagian itu sangat berharga. Misalnya tanaman yang satunya tahan terhadap penyakit akar sedangkan tanaman yang lainnya mempunyai buah yang berkualitas baik dan banyak. Dengan menyambung bagian-bagian dari dua tanaman itu dimaksudkan untuk memperoleh tanaman baru yang tahan terhadap hama dan penyakit serta mendatangkan buah yang berkualitas dan banyak (Tohir, 1993).
Salah satu cara untuk memperbaiki atau mengubah varietas yang telah ada dan sekaligus memperbaiki arstektur tanaman agar mudah proses pemanenan tanpa membongkar tanaman secara keseluruhan dapat ditempuh dengan cara working, dengan cara melakukan pangkas berat pada tanaman yang telah ada tersebut dan berfungsi sebagai batang bawah kemudian dilakukan sambung atau temple pucuk dengan varietas yang dikehendaki (Young dan Soult, 1994).

Macam-macam pupuk

Yang dimaksud dengan pupuk daun adalah pupuk yang bahan-bahan atau usur-unsur yang diberikan melalui daun dengan cara atau alat penyemprotan atau penyiraan kepada mahkota tanaman agar dapat langsung diserap guna mencukupi kebutuhan bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Penyemprotan hanya dapat dilakukan dengan pupuk yang mudah terlarut dalam air dan terjadinya, agar unsur-unsur yang terkandung dalam larutan pupuk buatan itu dapat diserap oleh daun atau batang tanaman. Jadi, tidak saja akar yang dapat menyerap unsur-unsur yang terkandung dalam pupuk, daun dan batang tanaman juga dapat melakukannya (Mulyani, 1993).
Pupuk daun termasuk pupuk buatan yang cara pemberiannya, melalui penyemprotan ke daun. Ada satu kelebihan atau keuntungan yang mencolok dari pemupukan lewat daun, yakni penyerapan hara pupuk yang diberikan berjalan lebih cepat disbanding ppupuk yang diberikan lewat akar. Tanaman lebih cepat menumbuhkan tunas dan tanah tidak rusak/lelah, sehingga pemupukan lewat daun dipandang lebih berhaasil guna daripada lewat akar (Lingga, 1993).
Pemberian pupuk akan lebih efektif bila diberikan melalui daun daripada melalui media lain. Hal ini disebabkan daun mampu menyerap pupuk sekitar 90 %, sedangakan akar hanya mampu menyerap sekitar 10 %
( Joko Triwanto dan Amir Syarifudin, 1998 ).
Wujud pupuk daun ada dua macam, yaitu larutan atau cairan dan kristal halus sampai berupa tepung. Sudah tentu perbedaan wujud ini akan menyebabkan perbedaan penyediaan. Kalau dalam bentuk tepung atau kristal halus yang mempunyai sifat halus dan sudah larut harus dilarutkan dengan air sebanyak yang telah ditentukan dan dalam bentuk larutan cukup diencerkan sebatas anjuran (Lingga, 1993).
Pemupukan lewat daun sekarang diterapkan secara luas dalam aplikasi hara mikro pada banyak tanaman pohon dan sayuran. Akan tetapi, pemupukan lewat daun utama umumnya belum berhasil dan belum banyak mendapatkan perhatian. Namun demikian, penelitian telah menunjukkan bahwa selama pengisian biji terjadi akumulasi beberapa unsure hara yang cukup berarti dalam biji-biji yang sedang berkembang, translokasi dari dua pengurasan beberapa unsur hara (khususnya N, P, K dan S) dalam daun daun dan bagian vegetatif lainnya, dan suatu penurunan laju fotosintesis dalam daun dengan suatu penurunan dalam gula-gula terlarut di berbagai bagian tanaman. Jadi, aplikasi hara lewat daun selama periode pengisian biji merupakan suatu potensi untuk meningkatkan hasil (Engelstad, 1997).
Aplikasi pupuk yang terutama dipakai untuk memberi unsure mikro (Fe, Zn, Mn, Cu) untuk pertumbuhan tanaman pada tanah yang memfiksasi unsur-unsur tersebut dalam unavailable yang cukup tinggi (Barley, 1995).
Pada periode sesudah hujan deras dan perlindian tanah, semprotan daun sering sangat berarti untuk memasukkan hara yang terdapat dalam jaringan tubuh tanaman secara cepat, terutama dengan urea dan unsur-unsur mikro ( Williams et al, 1991 ).
Pupuk daun disemprotkan pada pagi hari sekitar pukul 9 atau sore hari sekitar pukul 4 sampai gelap, seba pada saat itu stomata sedang membuka dengan membuka dengan sempurna sehingga resiko kemubaziran pupuk bisa ditekan. Dan tanaman mulai disemprot dengan pupuk daun sejak di persemaian dengan pupuk daun yang kadar N-nya tinggi. Untuk keperluan tersebut dapat dilihat di kemasannya berapa persen masing-masing unsure hara yang dikandungnya (Lingga, 1993).
Salah satu faktor yang banyak mempengaruhi tekanan turgor ini ialah banyak air yang terbuang lewat penguapan daun. Hal ini erat hubungannya dengan terik matahari dan angin. Jika terlalu terik atau angin betiup kencang maka penguapan akan bayak terjadi. Air dalam daun cepat berkurang sehingga tekanan turgor berkurang. Secara otomatis keadaan tersebut akn membuat stomata tertutup (Marsono dan Pinus Lingga, 2002).
Bila daun disemprot air maka tekanan turgornya naik sehingga otomatis stomata akan membuka dan menyerap cairan yang disemprotkan untuk menggantikan cairan yang hilang lewat penguapan
(Marsono dan Pinus Lingga, 2002).
Kelebihan pupuk daun didalamnya terkandung unsur hara mikro, umumnya tanaman serimg kekurangan unsur hara mikro bila hanya mengandalkan pupuk aka yang mayoritas berisi hara makro. Dengan pemberian pupuk daun maka tanaman akan terhidar dari kelelahan atau rusak (http://www.kompascybermedia.com).

Pustaka
Barley, K.P. 1995. The Agronomy Of Annual Crops. Dai Nippon Printing Co. (H.K).Ltd. Hongkong

Engelsted, 1997. Teknologi Dan Penggunaan Pupuk. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

http://www.kompascybermedia.com
Lingga, Pinus, 1993. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Marsono, Pinus Lingga. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk.Penebar Swadaya. Jakarta
Mulyani, H.S., dan Kurniadi, D. 1993. Jenis Pupuk Dan Aplikasinya. Penebar Swadaya. Jakarta.

Triwanto, Joko, Syarifudin, Amir. 1998. Konsentrasi larutan pupuk daun hyponex dan macam media tumbuh pada bibit Anggrek Catleya. J. Tropika. 6 (2). Lembaga Penerbitan Fakultas Pertanian UMM. Malang.

Williams et al. 1994. Produksi Sayuran Daerah Tropika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Pengertian-pengertian Kelompok Tani

1. Kelompok Tani
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri tetapi kemudian ingin berkelompok dengan manusia lainnya karena sifat manusia yang monodualistik yaitu manusia sebagai individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial. Sejak manusia dilahirkan sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan yaitu:
a. Keinginan untuk menyatu dengan manusia lain yang berbeda disekelilingnya yaitu masyarakat.
b. Keinginan untuk menyatukan dengan suasana alam sekelilingnya kesemuanya itu akan menyebabkan timbulnya kelompok-kelompok sosial di dalam kehidupan manusia ini, karena manusia itu tidak bisa hidup sendiri
(Soekanto, 1982).
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Mulyana, 2000).
Kelompok tani adalah petani yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) keakraban dan keserasian yang dipimpin oleh seorang ketua (Trimo, 2006).
Kelompok Tani menurut Anonim dalam Mardikanto (1993) diartikan sebagai kumpulan orang-orang tani atau yang terdiri dari petani dewasa (pria/wanita) maupun petani taruna (pemuda/pemudi) yang terikat secara formal dalam suatu wilayah keluarga atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani.
Menurut Suhardiyono (1992) kelompok tani biasanya dipimpin oleh seorang ketua kelompok, yang dipilih atas dasar musyawarah dan mufakat diantara anggota kelompok tani. Pada waktu pemilihan ketua kelompok tani sekaligus dipilih kelengkapan struktur organisasi kelompot tani yaitu sekretaris kelompok, bendahara kelompok, serta seksi-seksi yang mendukung kegiatan kelompoknya. Seksi-seksi yang ada disesuai kan dengan tingkat dan volume kegiatan yang akan dilakukan. Masing-masing pengurus dan anggota kelompok tani harus memiliki tugas dan wewenang serta tanggung jawab yang jelas dan dimengerti oleh setiap pemegang tugasnya. Selain itu juga kelompok tani harus memiliki dan menegakkan peraturan-peraturan yang berlaku bagi setiap kelompoknya dengan sanksi-sanksi yang jelas dan tegas. Biasanya jumlah anggota kelompok tani berkisar antara 10-25 orang anggota.
Menurut Samsudin (1993) bahwa dalam suatu kelompok sosial seperti halnya kelompok tani, selalu mempunyai apa yang disebut external structure atau socio group dan internal structure atau psycho group. External structure dalam kelompok tani adalah dinamika kelompok, yaitu aktivitas untuk menanggapi tugas yang timbul karena adanya tantangan lingkungan dan tantangan kebutuhan, antara lain termasuk tuntutan meningkatkan produktivitas usahatani. Sedangkan internal structure adalah menyangkut norma atau pranata dan kewajiban dalam mencapai prestasi kelompok. Internal structure akan sekaligus merupakan dasar solidaritas kelompok, yang timbul dari adanya kesadaran setiap anggota kelompok tani yang bersangkutan.

Pengertian Dinamika Kelompok dan Dinamika Kelompok tani

Dinamika kelompok (Group Dynamics) diartikan dengan berbagai cara antara lain: studi tentang kekuatan-kekuatan sosial dalam suatu kelompok yang mempelancar atau menghambat proses kerjasama dalam kelompok; metode-metode dan teknik-teknik yang dapat diterapkan bila sejumlah orang bekerjasama dalam kelompok, misalnya berperan (role playing) dan observasi terhadap jalannya proses kelompok dan pemberian umpan balik (feedback); serta cara-cara menangani organisasi dan pengelolaan kelompok-kelompok (Winkel, 1991).
Menurut Gerungan (1988), dinamika kelompok adalah analisis dari hubungan-hubungan kelompok sosial yang berdasarkan prinsip bahwa tingkah laku dalam kelompok itu adalah harus dari interaksi yang dinamis antara individu-individu dalam situasi sosial, internalisasi norma-norma, sense of belonging sebenarnya analisis dari saling hubugan antara anggota didalam kelompok dan sudah merupakan dinamika kelompok.
Dinamika kelompok, secara umum tidak dapat dipisahkan dari tingkat kepuasan yang dimiliki para anggota kelompok tersebut dalam pengejaran tujuan, besarnya tujuan yang dicapai, serta penggunaan konsep efektif dan efisien dalam mengejar tujuan tersebut (Yusmar, 1989).
Dinamika kelompok merupakan bidang penelitian yang dikaji, yang cenderung diarahkan pada komunikasi kelompok kecil yang berkecimpung dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Dengan demikian, komunikasi dalam kelompok kecil lebih banyak dilakukan sebagai cara untuk menyempurnakan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam kelompok (Mulyana, 1996).

3. Dinamika Kelompok Tani
Menurut Suhardiyono (1992), dinamika kelompok tani adalah gerakan bersama yang dilakukan oleh anggota kelompok tani secara serentak dan bersama-sama dalam melaksanakan seluruh kegiatan kelompok tani dalam mencapai tujuannya yaitu peningkatan hasil produksi dan mutunya yang gilirannya nanti akan meningkatkan pendapatan mereka. Dinamika kelompok tani mencakup seluruh kegiatan meliputi inisiatif, daya kreatif dan tindakan nyata yang dilakukan oleh pengurus dan anggota kelompok tani dalam melaksanakan rencana kerja kelompoknya yang telah disepakati bersama.
Untuk melakukan analisis terhadap Dinamika Kelompok, pada hakekatnya dapat dilalukan melalui dua macam pendekatan, yakni:
a. Pendekatan sosiologis, yaitu analisis dinamika kelompok melalui analisis terhadap proses sistem sosial tersebut.
b. Pendekatan psiko-sosial, yaitu analisis dinamika kelompok melalui analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika kelompok itu sendiri.
Pendekatan seperti ini, lebih sering diterapkan pada kelompok-kelompok-kelompok tugas. Meskipun demikian, karena banyak kelompok (seperti halnya kelompok tani) masih merupakan bentuk peralihan dari kelompok sosial ke kelompok tugas, di dalam analisis dinamika kelompoknya seringkali masih dilakukan penggabungan terhadap kedua macam pendekatan tersebut (Mardikanto, 1996).
Analisis dinamika kelompok dengan pendekatan psiko-sosial, dimaksudkan untuk melakukan kajian terhadap perilaku anggota-anggota kelompok dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan demi tercapainya tujuan kelompok. Faktor-faktor itu adalah:
a. Tujuan Kelompok (group goal)
Menurut Shaw dalam Mardikanto (1996) mengartikan tujuan kelompok sebagai hasil akhir atau keadaan yang diinginkan oleh semua anggota kelompok. Tujuan kelompok biasanya dirumuskan sebagai perpaduan dari tujuan-tujuan semua anggota kelompok.
Menurut Johnson dalam Huraerah dan Purwanto (2006) menjelaskan bahwa suatu tujuan kelompok yang efektif harus memiliki aspek-aspek sebagai berikut:
1) Tujuan tersebut dapat didefinisikan secara operasional, dapat diukur, dan dapat diambil.
2) Tujuan tersebut mempunyai makna bagi anggota kelompok, relevan, realistik, dapat diterima dan dapat dicapai.
3) Anggota-anggota kelompok mempunyai orientasi terhadap tujuan yang telah ditetapkan.
4) Adanya keseimbangan tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dalam mencapai tujuan individu dan tujuan kelompok.
5) Terjadinya konflik yang berkaitan dengan tujuan dan tugas-tugas kelompok dapat diselesaikan dengan baik.
6) Tujuan tersebut bersifat menarik dan menantang serta mempunyai risiko kegagalan yang kecil dalam mencapainya.
7) Tercapainya tingkat koordinasi di antara anggota-anggota.
8) Tersedianya sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas dan tujuan-tujuan kelompok.
9) Adanya kemudahan untuk menjelaskan dan mengubah tujuan kelompok.
10) Berapa lama waktu yang diperlukan oleh suatu kelompok untuk mencapai tujuan kelompok.
b. Struktur Kelompok (group structure)
Menurut Cartwright and Zander dalam Mardikanto (1996) struktur kelompok yaitu suatu pola yang teratur tentang bentuk tata hubungan antara individu-individu dalam kelompok sekaligus menggambarkan kedudukan dan peran masing-masing dalam upaya pencapaian kelompok.
Menurut Haerurah dan Purwanto (2006) struktur kelompok sebagai suatu pola interaksi, komunikasi dan hubungan-hubungan antara anggota kelompok. Struktur kelompok ada yang bersifat formal dan ada pula yang bersifat informal. Jika suatu struktur kelompok telah menjadi kuat, biasanya sulit untuk mengadakan perubahan terhadap struktur kelompok tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan struktur kelompok yaitu jika tujuan perubahan tersebut tidak dikemukakan secara jelas, berorientasi pada kepentingan pribadi, dilakukan secara mendadak, kurang bermanfaat, unsur pimpinan tidak diikutsertakan dalam perubahan, serta jika kelompok telah merasa puas terhadap kondisi yang dimiliki sekarang ini.
c. Fungsi Tugas (task function)
Menurut Hakman dalam Mardikanto (1996) fungsi tugas kelompok yaitu seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok sesuai dengan fungsi masing-masing sesuai dengan kedudukannya dalam kelompok.
Karena fungsi tugas kelompok berkaitan dengan hal-hal yang perlu diperhatikan dan harus dilakukan oleh kelompok dalam usaha mencapai tujuan kelompok, maka kiranya perlu dijelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dan harus dilakukan oleh kelompok dalam usaha mencapai tujuan kelompok, maka kiranya perlu dijelaskan hal-ha yang perlu dilakukan oleh kelompok. Sehubungan dengan hal tersebut, Cartwight dan Zander mengklasifikasikan fungsi tugas ke dalam enam hal, yaitu:
1) Koordinasi, berfungsi sebagai koordinasi untuk menjembatani kesenjangan antara anggota.
2) Informasi, berfungsi memberikan informasi kepada masing-masing anggota.
3) Prakarsa, berfungsi menumbuhkan dan mengembangkan prakarsa anggota.
4) Penyebaran, berfungsi menyebarkan hal-hal yang dilakukan kelompok kepada masyarakat atau lingkungannya.
5) Kepuasan, berfungsi untuk memberikan kepuasan kepada anggota.
6) Kejelasan, berfungsi menciptakan kejelasan kepada anggota, seperti tujuan dan kebutuhan-kebutuhan anggota.
(Haerurah dan Purwanto, 2006).
d. Pembinaan dan pemeliharaan kelompok (group building and maintenance)
Menurut Miles dalam Mardikanto (1996) pembinaan dan pemeliharaan kelompok yaitu upaya kelompok untuk tetap memelihara dan mengembangkan kehidupan kelompok.
Pembinaan dan pemeliharaan kelompok adalah berkaitan dengan “apa yang harus ada” dalam kelompok, yaitu pembagian tugas yang jelas, kegiatan yang terus-menerus dan teratur, ketersediaan fasilitas yang mendukung dan memadai, peningkatan partisipasi anggota, adanya jalinan komunikasi antar anggota, adanya pengawasan dan pengendalian kegiatan kelompok, timbulnya norma-norma kelompok, proses sosialisasi kelompok, kegiatan untuk menambah anggota baru dan mempertahankan anggota yang lama (Haerurah dan Purwanto, 2006).
e. Kekompakan Kelompok (group cohesiveness)
Menurut Krech dalam Mardikanto (1996) kekompakan kelompok diartikan sebagai rasa keterkaitan anggota kelompok terhadap kelompoknya.
Kekompakan kelompok adalah tongkat kebersamaan yang menggambarkan ketertarikan anggota kelompok kepada kelompoknya dan hal ini meliputi tiga klasifikasi pengertian, yaitu:
1) Sebagai daya tarik kelompok terhadap anggota-anggotanya,
2) Sebagai koordinasi dari usaha-usaha anggota kelompok,
3) Sebagai tindakan motivasi anggota kelomok untuk mengerjakan berbagai tugas kelompok dengan penuh semangat dan efisien.
(Haerurah dan Purwanto, 2006).
f. Suasana Kelompok (group atmospere)
Menurut Dahama dan Bhatnagar dalam Madikanto (1996) suasana kelompok yaitu lingkungan fisik dan non fisik (emosional) yang akan mempengaruhi perasaan setiap anggota kelompok terhadap kelompoknya. Suasana tersebut dapat berupa: keramahtamahan, kesetiakawanan, kebebasan bertindak dan suasana fisik seperti kerapihan/keberantakan, keteraturan dan lain-lain.
Suasana kelompok adalah suasana yang terdapat dalam suatu kelompok, sebagai hasil dari berlangsungnya hubungan-hubungan interpersonal atau hubungan antar anggota kelompok. Dengan demikian, suasana atau iklim kelompok mengacu kepada ciri-ciri khas interaksi anggota dalam kelompok. Iklim kelompok tersebut bisa resmi/formal atau tidak resmi/kolegial, ketat atau longgar/permisif, santai atau tegang, akrab atau renggang, kesetakawanan atau bermusuhan, gemira atu sedih, dan sebagainya. Suasana/iklim dalam suatu kelompok mencerminkan sistem norma kelompok tersebut. Mereka juga mengungkapkan bahwa beberapa kelompok, mungkin mempunyai iklim kelompok yang sangat kooperatif, sedangkan kelompok lain mungkin sangat kompetitif. Pada segi lain, suatu kelompok mungkin saja memiliki iklim kelompok yang anarkis, ritualistik atau saling tergantung (Huarerah dan Purwanto, 2006).
g. Tekanan Kelompok (group pressure)
Tekanan kelompok yaitu tekanan-tekanan atau ketegangan dalam kelompok yang menyebabkan kelompok tersebut berusaha keras untuk mencapai tujuan kelompok. Adanya tekanan kelompok (baik dari dalam, maupun dari luar) memang baik untuk mendinamiskan kelompok, tetapi jika ketegangan tersebut berlarut-larut dapat pula membahayakan kehidupan kelompok yang bersangkutan (Mardikanto, 1996).
Tekanan kelompok berbeda dengan kelompok tekanan. Tekanan kelompok yaitu tekanan yang berasal dari kelompok itu sendiri. Sedangkan kelompok tekanan mengacu pada tekanan/desakan yang berasal dari luar kelompok atau adanya kelompok tandingan berupa desakan-desakan kelompok lain terhadap suatu kelompok. Atau bisa pula dalam bentuk harapan-harapan masyarakat pada anggota kelompok (Huarerah dan Purwanto, 2006).

h. Keefektifan Kelompok (group effectiveness)
Menurut Sills dalam Mardikanto (1996) keefektifan kelompok yaitu keberhasilan kelompok untuk mencapai tujuannya, yang dapat dilihat pada tercapainya keadaan atau perubahan-perubahan (fisik maupun non fisik) yang memuaskan anggotanya.
Kelompok yang efektif mempunyai tiga dasar, yaitu: aktivitas pencapaian tujuan, aktivitas memelihara kelompok secara internal, aktivitas mengubah dan mengembangkan cara meningkatkan keefektifan kelompok. Interaksi anggota kelompok yang memperlihatkan aktivitas dengan mengintegrasikan ketiga macam aktivitas dasar tersebut adalah mencerminkan bahwa kelomok tersebut dapat dikategorikan sebagai kelompok yang berhasil atau efektif. Anggota kelompok yang efektif memiliki keterampilan untuk mengatasi atau menghilangkan hambatan pencapaian tujuan kelompok, untuk memecahkan masalah di dalam memelihara kelompok dan keterampilan untuk mengatasi hambatan peningkatan kelompok agar lebih efektif lagi (Huarerah dan Purwanto, 2006).
i. Agenda Terselubung (hidden agenda)
Agenda terselubung yaitu tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh kelompok yang diketahui oleh semua anggotanya, tetapi tidak dinyatakan secara tertulis. Meskipun demikian, seringkali agenda terselubung ini justru sangat penting untuk mendinamiskan kelompok (Mardikanto, 1996).
Agenda terselubung adalah tujuan perorangan (pribadi) yang tidak diketahui oleh anggota-anggota kelompok lainnya dan tujuan tersebut seringkali berlainan atau berlawanan dengan tujuan kelompok dominan. Maksud agenda terselubung disini adalah suatu tujuan anggota kelompok yang terselubung atau ditutup-tutupi atau sengaja tidak diberitahukan kepada anggota-anggota kelompok lainnya, dalam melakukan suatu aktivitas tertentu dalam kelompok, karena tujuan sebenarnya dari anggota kelompok tersebut berlawanan dan bertentangan dengan tujuan kelompok yang disepakati bersama (Huarerah dan Purwanto, 2006).

Pustaka

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta.
Mardikanto, T. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.
Mulyana, D. 1996. Human Communication: Prinsip-prinsip Dasar. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyana, D. 2000. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Yusmar, Y. 1989. Dinamika Kelompok Kerangka Studi Dalam Perspektif Psikologi Sosial. Armico. Bandung.
Suhardiyono. 1992. Penyuluh Petunjuk Bagi Pertanian Pertanian. Erlangga. Jakarta.
Trimo, STP. 2006. Evaluasi Penyuluhan Pertanian Permasalahan dan Upaya Pemecahannya di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali. Unpublished.
Samsudin. 1993. Manajemen Penyuluhan Pertanian. Bina Cipta. Bandung.Winkel, W. S. Winkel.1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. PT Grasindo. Jakarta.
Gerungan. 1988. Psikologi Sosial. PT Eresco. Bandung.

Soekanto. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Bina Cipta. Bandung.

Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian harus berorentasi pada pemberdayaan masyarakat. Slamet (2000) menekankan bahwa pada dasarnya pembangunan harus bertujuan untuk mengembangkan masyarakat. Pembangunan diselenggarakan untuk memecahkan masalah yang ada dan dihadapi masyarakat. Keberhasilan pembangunan dipedesaan akan terlihat apabila masyarakat secara dinamis mampu memenuhi kebutuhannya. Korten dan Sjahrir (1988) menyatakan bahwa kunci keberhasilan pembangunan agar mencapai sasaran pada sebagian besar masyarakat miskin apabila dikurangi kendala-kendala yang dihadapi kaum miskin dalam mengungkapkan kemampuan-kemampuannya. Soedjatmoko (1983) menekankan pentingnya motivasi, tujuan, dan makna dalam proses pembaharuan diri dalam pembangunan, serta bukan kemakmuran material semata.
Dalam kegiatan pertanian, masyarakat petani masih membutuhkan suatu layanan yang semakin luas dan komplek cakupannya. J.Di Franco (Munder, Addion H., 1972 mengidentifikasi cakupan tanggung jawab layanan pertanian di masa mendatang meliputi: (a) Produksi pertanian; (b) Pemasaran, distribusi dan pengolahan produk pertanian; (c) Konservasi, penggunaan dan perbaikan sumber daya alam; (d) Pengelolaan usahatani dan ekonomi rumah tangga; (e) Kehidupan keluarga; (f) Pengembangan generasi muda; (g) Pengembangan kepemimpinan; (h) Pengembangan masyarakat dan pembangunan sumberdaya.
Layanan pengembangan masyarakat dan pembangunan sumberdaya manusia sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat. Menurut Margono Slamet (2000) istilah “berdaya” diartikan sebagai tahu, mengerti, faham, termotivasi, berkesempatan melihat peluang, berenergi, mampu bekerjasama, tahu berbagai alternatif, mampu mengambil resiko, mampu mencari dan menangkap informasi, mampu bertindak sesuai situasi. Petani yang berdaya, menurut Susetiawan (2000) adalah petani yang secara politik dapat mengartikulasikan (menyampaikan perwujudan) kepentingannnya, secara ekonomi dapat melakukan proses tawar menawar dengan pihak lain dalam kegiatan ekonomi, secara sosial dapat mengelola mengatur komunitas dan mengambil keputusan secara mandiri, dan secara budaya diakui eksistensinya.
Pemahaman tentang pemberdayaan masyarakat merupakan suatu strategi yang menitikberatkan pada bagaimana memberikan peran yang proposional agar masyarakat dapat berperan secara aktif dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga swasta dan masyarakat sendiri (Saputro, 2001).
Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari konsep pembangunan yang secara implisit mengutarakan perubahan dari satu tahapan ke tahapan yang lebih baik. Pemberdayaan haruslah melampaui ukuran materi dan uang, oleh karena itu pemberdayaan harus diartikan sebagai suatu proses multi dimensional termasuk di dalamnya suatu upaya pengorganisasian kembali dan reorientasi dari seluruh system ekonomi dan system social masyarakat. Upaya tersebut melibatkan perubahan yang radikal di bidang kelembagaan, struktur social, struktur administrasi, persepsi, altitude serta perubahan kebiasaan kepercayaan suatu bangsa (Arintadisastra, 2001).

Pustaka (source)

Korten, D.C dan Sjahrir. 1988. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Michel Todaro P. 1978. Economic Development in The World. Longmen Inc. New York. Dalam Arintadisastra. 2001. Membangun Pertanian Modern. Yayasan sinar Tani. Jakarta.

Mosher, A.T. 1991. Menggerakkan dan Membangun Pertanian Syarat-syarat Pokok Pembangunan dan Modernisasi. CV Yasaguna.Jakarta.

Saputro, E.P. (ed). 2001. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Ketahanan Pangan Kajian Empiris LSM-LSM Mitra Yayasan Indonesia Sejahtera. Yayasan Indonesia Sejahtera. Jakarta.

Slamet, M. 2000. Memantapkan Posisi dan Meningkatkan Peran penyuluhan Pembangunan Dalam pembangunan. Makalah Seminar Nasional Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani 25-26 September 2000 di IPB.

Soedjatmoko. 1983. Dimensi Manusia Dalam Pembangunan. LP3ES. Jakarta.

Soekanto S. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

English Version Translate by Google :

Agricultural development should be berorentasi on community empowerment. Slamet (2000) stressed that in principle the development should aim to develop the community. Development was held to solve problems and face society. The success of development in rural areas will be visible when people are dynamically able to meet their needs. Korten and Sjahrir (1988) stated that the key to the success of development in order to achieve the target of most of the poor if the reduced constraints faced by the poor in expressing capabilities. Soedjatmoko (1983) stressed the importance of motivation, purpose, and meaning in the process of self renewal in development, and not a mere material wealth.
In agricultural activities, farmers still need a wider service and complex in scope. J. In Franco (Munder, H. Addion, 1972 to identify the scope of responsibility of agricultural services in the future include: (a) Production agriculture; (b) Marketing, distribution and processing of agricultural products; (c) The conservation, use and improvement of resources nature; (d) Management of farm and household economy; (e) family life; (f) The development of the young generation; (g) leadership development; (h) Community development and resource development.
Community development services and human resources development as one of community empowerment. According to Slamet Margono (2000) the term “helpless” is defined as knowing, understanding, faham, motivated, an opportunity to see opportunity, energy, able to work together, know a variety of alternatives, be able to take risks, able to search for and capture of information, able to act according to circumstances. Farmers are empowered, according to Susetiawan (2000) is a farmer who can articulate politically (submit embodiment) kepentingannnya, can economically bargaining process with the other parties in economic activities, socially organize the community can manage and make decisions independently, and are recognized cultural existence.
Understanding of community empowerment is a strategy that focuses on how to provide a proportional role that the community can actively participate in social activities. This shows that community empowerment is not only the responsibility of the government, but also the private sector and communities themselves (Saputro, 2001).
Community empowerment is part of the development concept that implicitly expressing the change from one stage to something better. Empowerment must go beyond the size of material and money, therefore it must be defined empowerment as a multi-dimensional process which includes a reorganization effort and reorientation of entire economic system and social system of society. These efforts involve a radical change in the institutional, social structure, administrative structure, perception, altitude and change in the habits of a nation’s trust (Arintadisastra, 2001).

Pengertian Kelompok Tani

Kelompok tani secara tidak langsung dapat dipergunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas usaha tani melalui pengelolaan usaha tani secara bersamaan. Kelompok tani juga digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Dengan adanya kelompok tani, para petani dapat bersama – sama memecahkan permasalahan yang antara lain berupa pemenuhan sarana produksi pertanian, teknis produksi dan pemasaran hasil.
Kelompok tani sebagai wadah organisasi dan bekerja sama antar anggota mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat tani, sebab segala kegiatan dan permasalahan dalam berusaha tani dilaksanakan oleh kelompok secara bersamaan. Melihat potensi tersebut, maka kelompok tani perlu dibina dan diberdayakan lebih lanjut agar dapat berkembang secara optimal.
Pentingnya pembinaan petani dengan pendekatan kelompok tani juga dikemukakan oleh Mosher (1968) dalam Djiwandi (1994) bahwa salah satu syarat pelancar pembangunan pertanian adalah adanya kegiatan petani yang tergabung dalam kelompok tani. Mengembangkan kelompok tani menurut Jomo (1968) dalam Djiwandi (1994) adalah berarti membangun kemauan, dan kepercayaan pada diri sendiri agar dapat terlibat secara aktif dalam pembangunan. Disamping itu agar mereka dapat bergerak secara metodis, berdayaguna, dan teroganisir. Suatu gerakan kelompok tani yang tidak teroganisir dan tidak mengikuti kerjasama menurut pola-pola yang maju, tidak akan memecahkan problem-problem yang dihadapi petani.
Kelompok tani, menurut Deptan RI (1980) dalam Mardikanto (1996) diartikan sebagai kumpulan orang-orang tani atau petani, yang terdiri atas petani dewasa (pria/wanita) maupun petani taruna (pemuda/i), yang terikat secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada dilingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani.
Beberapa keuntungan dari pembentukan kelompok tani itu, antara lain diungkapkan oleh Torres (Wong, 1997) dalam Mardikanto (1996) sebagai berikut:
a. Semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok.
b. Semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antar petani.
c. Semakin cepatnya proses difusi penerapan inovasi atau teknologi baru.
d. Semakin naiknya kemampuan rata-rata pengembalian hutang petani.
e. Semakin meningkatnya orientasi pasar, baik yang berkaitan dengan masukan (input) atau produk yang dihasilkannya.
f. Semakin dapat membantu efesiensi pembagian air irigasi serta pengawasannya oleh petani sendiri.
Sedangkan alasan utama dibentuknya kelompok tani adalah :
a. Untuk memanfaatkan secara lebih baik (optimal) semua sumber daya yang tersedia.
b. Dikembangkan oleh pemerintah sebagai alat pembangunan.
c. Adanya alasan ideologis yang “mewajibkan” para petani untuk terikat oleh suatu amanat suci yang harus mereka amalkan melalui kelompok taninya (Sajogyo, 1978 dalam Mardikanto, 1996).

Pustaka :

Mardikanto, T. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Djiwandi, 1994. Pengaruh Dinamika Kelompok Tani Terhadap Kecepatan Adopsi Teknologi Usahatani di Kabupaten Sukoharjo. Laporan Penelitian. Tidak Dipublikasikan.

Pengertian Kemiskinan

Ditinjau dari segi pendapatan, petani kecil identik dengan petani miskin. Menurut Sorjono Soekanto (1990), mengartikan tentang kemiskinan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga, mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
Kenyataan menunjukkan bahwa kemiskinan masih terdapat pada penduduk negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Kemiskinan sering dihubungkan dengan keterbelakangan dan ketertinggalan. Di samping itu kemiskinan juga merupakan salah satu masalah social yang amat serius. Untuk mencari solusi yang relevan dalam pemecahan masalah kemiskinan, perlu dipahami sebab musabab dan menelusuri akar permasalahan kemiskinan itu, agar dapat digali potensi sebenarnya yang terkandung dalam sumberdaya masyarakat tani.
Kemiskinan pada hakekatnya adalah situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki oleh si miskin, tetapi karena tidak bisa dihindari dengan kekuatan yang ada padanya. Kemiskinan antara lain ditandai dengan sikap dan tingkah laku yang menerima keadaan yang seakan-akan tidak bisa diubah, yang tercermin di dalam lemahnya kemauan untuk maju, rendahnya produktivitas, ditambah lagi oleh terbatasnya ,msodal yang dimiliki, rendahnya pendidikan dan terbatasnya kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan (Dep Tan, 1996).
Oleh karena itu dalam pengentasan rakyat dan kemiskinan adalah terlebih dahulu menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya tingkat kehidupan mereka itu sangat rendah, serta meyakinkan mereka bahwa sesungguhnya kondisi mereka itu masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan. Dengan kata lain upaya penanggulangan kemiskinan harusnya dimulai dengan memberdayakan si miskin, yang dilaksanakan melalui suatu proses pendidikan yang berkelanjutan dengan prinsip menolong diri sendiri dan berlandaskan pada peningkatan kemampuan menghasilkan pendapatan, sehingga mereka mampu menjangkau terhadap fasilitas/ kemudahan-kemudahan pembangunan yang tersedia dalam aspek sumberdaya, permodalan, teknologi dan pasar.
Batasan kemiskinan umumnya diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum atau layak. Selanjutnya dikatakan bahwa tingkat pendapatan minimum itulah yang dipergunakan sebagai pembatas antara keadaan miskin dan tidak miskin yang disebut poverty line (garis kemiskinan). Bagi masyarakat Indonesia, beras dipandang sebagai komoditi kebutuhan pokok yang besar pengaruhnya. Komoditi ini elastis, artinya perubahan harga beras mempengaruhi komoditi lainnya. Oleh karena itu beras dapat digunakan sebagai dasar penentuan garis kemiskinan. Adapun indikator kemiskinan menurut Sayogyo dalam Sutrino (1997) berdasarkan pendapatan setara dengan beras per orang per tahun :

Tabel 1. Indikator Kemiskinan Menurut Konsumsi Beras
Jenis Kemiskinan Pedesaan (kg) Perkotaan (kg)
Melarat 180 270
Sangat Miskin 240 320
Miskin 360 480
Sumber data : Sutrino, 1997.

Pustaka

Departemen Pertanian. 1996. Metodologi Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia. Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian. Jakarta.
Soedjatmoko. 1983. Dimensi Manusia Dalam Pembangunan. LP3ES. Jakarta.
Soekanto S. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

English Version By Google Translate :

In terms of income, small farmers is identical with the poor farmers. According Soekanto Sorjono (1990), defines the poverty as a situation where a person is not able to maintain himself in accordance with the living standards and also not able to use the energy, mentally and physically in the group.
The fact is that poverty is still present in the population of developing countries including Indonesia. Poverty is often associated with backwardness and underdevelopment. In addition, poverty is also one of the great social problems seriously. To find solutions that are relevant in solving the problems of poverty, need to understand the causes and trace the root causes of poverty that, in order to dig real potential resources contained within the farming community.
Poverty is essentially deprived situation happened not because desired by the poor, but because it can not be avoided by the power available to him. Poverty among others, marked by attitudes and behavior that receives state as if it can not be changed, which is reflected in the lack of willingness to move forward, low productivity, plus the limited, msodal owned, low education and limited opportunities to participate in development (DEP Tan, 1996).
Therefore, in people and poverty alleviation are they aware beforehand that the actual level of their lives is very low, and assured them that their condition was indeed still can be repaired and improved. In other words, poverty reduction efforts should begin by empowering the poor, who carried out through an ongoing educational process with self-help principles and based on the increased capacity to generate revenue, so they are able to reach the facility / convenience-ease of development resources available in terms of , capital, technology and markets.
Limitation of poverty is generally measured by comparing the income level required to meet minimum living needs or deserves. Further said that the minimum income level that is used as a barrier between the state of poverty and the poor are not the so-called poverty line (poverty line). For the people of Indonesia, rice is seen as a staple commodity of influence. This commodity is elastic, meaning that rice price changes affect other commodities. Therefore, rice can be used as the basis for determining the poverty line. The indicators of poverty according Sayogyo in Sutrino (1997) based on the income of rice equivalent per person per year

Kelembagaan dalam penyuluhan pertanian

Kelembagaan penyuluhan pertanian merupakan salah satu wadah organoisasi yang terdapat dalam dinas pertanian. Kelembagaan pertanian menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada antara lain:
1. Kebutuhan ketrampilan yang lebih cakap dibanding usaha produk serelia.
2. Tuntutan petani untuk mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produknya.
3. Pengetahuan dari berbagai macam sumber.
4. Pembiayaaan organisasi penyuluhan dari pihak swasta yang semula hanya dari pihak pemerintah.
Penyesuaian dengan kondisi tersebut maka lembaga penyuluhan dalam menghadapi perubahan tersebut menyikapi dengan:
1. Pengembangan SDM
2. Pengembangan system
3. Metode dan materi
4. optimalisasi sarana
5. Prasarana dan alat Bantu
6. Pemberdayaan masyarakat sasaran
7. Pengembangan jaringan kerja serta kemitraan
Kelembagaan badan dinas dan subdinas berdasarkan debirokratisasi entrepreneurship beureneraey dengan kombinasi minimal empat organisasi yaitu organisasi administrasi, Vs organisasi teknis dan organisasi structural Vs organisasi fungsional yang berbeda ciri.
Organisasi administrasi di bentuk menyangkut pengurusan tugas-tugas dan fungsi administrasi umum, protokoler, logistic dan perlengkapan, personil dan kepegawaiaan serta pengawasan internal.
Organisasi bersifat teknis fungsional adalah dinas-dinas dan unit pelaksana teknis atau unit pelaksana teknis daerah (UPTD). Kelembagaan Struktural dibentuk karena pelaksanaan tugas pokok dan fungsi lebih banyakmengacu kepada garis komando yang lazim dilakukan pada organisasi militer. Penyuluhan pertanian harus memperhaikan hal-hal seperti penghargaan profesinya, kesejahteraannya serta adanya aturan operasional penyuluhan yang jelas dan trasparan, dengan kata lain harus memperhatikan karier bagi penyuluhnya. Fungsi utama dari kelembagaan penyuluhan pertanian adalah sebagai wadah dan organisasi pengembangan sumberdaya manusia pertanian serta menyelenggarakan penyuluhan. Adanya kelembagaan penyuluhan pertania berdiri sendiri diharapkan dapat menjamin terselengaranya
1. Fungsi perencanaan dan penyusunan program penyuluhan di tingkat Kabupaten Kota dan tersusunnya programa di tingkat BPP.
2. Fungsi penedian dan penyebaran informasi teknologi, model usaha agrobisnis dan pasar bagi petani di pedesaan.
3. Fungsi pengembangan SDM pertanian untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan pendapatan.
4. Penataan administrasi dan piningkatan kinerja penyuluh pertanian yang berdasarkan kompetensi dan profesionalisme.
5. Kegiatan partisipasi petani-penyuluh dan peneliti.
6. Fungsi supervise, monitoring, evaluasi serta umpan balik yang positif bagi perencanaan penyuluhan kedepan.
Peran kelembagaan di tingkat Kabupaten kota, kecamatan, dan tingkat kelembagaan petani antara lain:
1. Sebagai Sentra pelayanan pendidikan non-formal dan pembelajaran petani dan kelompoknya dalam usaha agrobisnis.
2. Sebagai sentra komunikasi, informasi dan promosi teknologi, sarana produksi, pengolahan hasil peralatan danmodel-model agobisnis.
3. Sebagai sentral pengembangan SDM pertanian dan poenyuluhan berbasis kerakyatan, sesuai kebutuhan petani dan profesionalisme penyuluhan pertanian.
4. Sebagai sentral pengembangan kelembagaan social ekonomi petani.
5. Sebagai sentra pengembangan kompetensi dan profesionalisme penyuluh pertanian.
6. Sebagai sentra pengembangan kemitraan dengan dunia usaha agribisnis dan lainnya.

Kelembagan penyuluhan pertanian di pusat adalah badan Pengembangan SDM pertanian, Depertemen Pertanian dalam menjalankan tugas dan fungsinya di bidang penyuluhan pertanian denagn Komisi penyuluhan pertanian nasional yang berfungsi menyiapkan bahan untuk merumuskan kebijaksanaan nasional penyuluh pertanian dan bahan untuk memecahmasalah dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian yang memiliki komposisi anggota 60% unsure non pemerintah dan 40% unsure pemerintah.
Kelembagaan penyuluhan pertania di tingkat propinsi berfungsi menyiapkan bahan untuk perumusan kebijaksanaan dan program penyuluhan pertanian propnsi serta yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan SDM aparat pertania teknis fungsional, dan ketrampilan serta diklat kejuruan tingkat menengah.Kelembagaan penyuluhan di tingkat kabupaten kota mempunyai fungsi menyiapkan bahan untuk perumusan kebijakan penyuluh pertanian Kabupaten kota dan bahan untuk memecahkan masalah dalam pelaksanaan penyuluhan pertanian sesuai dengan kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten kota. Kelembagaan penyuluhan di Kabupaten Kota diharapkan dapat menjamin:
1. Terselenggaranya fungsi perencanaan dan penyusunan program di kabupaten kota dan program penyuluhan di BPP/ kecamatan.
2. Terselanggaranya fungsi penyedian dan penyebaran informasi teknologi, agribisnis bagi keluarga petani dan masyarakat agribisnis.
3. Terselengaranya fungsi pengembangan poenyuluhan pertanian terutama di BPP/kecamatan.
4. Terselenggaranya administrasi dan profesionalisme penyuluhan pertanian.
5. Terselenggaranya kegiatan pengkajian, pengembangan dan penerapan teknologi yang partisipatif spesifik lokasi.
6. Tersedianya fasilitas pertemuan untuk kelompok tani dan kelembagaan petani lainya.
7. Terjaminnya status organisasi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
8. Terselanggaranya fungsi monitoring dan evaluasipenyelenggaraan penyuluhan pertanian.

Kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat kecamatan adalah BPP atau lemmbaga lainnya yang mempunyai tugas dan fungsi yang sama dan ditetapkan dengan peraaturan daerah dan SK bupati. Harapan dari di bentuknya BPP:
1. Tersedianya fasilitas untuk menyusun programa dan rencana kerja penyuluhan pertanian yang tertib.
2. Tersedianya fasilitas untuk menyediakan dan menyebarkan informasi teknologi dan pasar.
3. Terselenggaranya kerjasama antar peneliti, penyuluh dan petani/kontak tani-nelayan dan pelaku agribisnis lainnya.
4. Tersedianya fasilitas untuk kegiatan balajar dan forum-forum pertemuan bagi petani dan penyuluhannya.
5. Tersedianya fasilitas untuk membuat percontohan dan pengembangan model-model usaha tani dan kemitraan agribisnis dan ketahanan pangan.
Kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat desa adalah kelompok tani yang melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian. Kelembagaan kelompok tani dahulu merupakan perpanjamgan tangan pemerintah untuk melaksanakan program pemerintah sehingga tidak memperhatikan inisiatif dari petani, namun sekarang setelah adanya otonomi daerah maka kelompk tani lebih aktif dengan penyaluran aspirasi dari petani. Kelembagaan kelompok tani agar berjalan efektif maka harus mendasarkan kepada:
1. Pemecahan masalah yang dihadapi, kebutuhan yang diinginkan.
2. Inisiatif yang tinggi untuk memajukan kelompok
3. Kinerja harus sejalan dengan perkembangan kesadaran kelompok untuk berkembang.
4. Peran agen pembaharu sebagai fasilitator yang mengembangkan kepemimpinan dan kesadaran kritis anggota-anggotanya.
5. Peran kelompok dalam mengembangkan komunikasi local yang dapat mengalirkan informasi dan menggerakan anggota-anggotanya.
Review umum
Pengertian kelembagaan pertanian dan pelaku usaha tani lainya adalah organisasi yang anggotanya petani dan pelaku usaha pertanian lainnya dimana di bentuk oleh mereka, baik formal maupun non-formal. Kelembagaan petani yang non formal misalnya seperti kelompok tani dan gabungan kelompok tani atau lebih dikenal dengan GAPOKTAN. Jadi, menurut Dinas Pertanian RI dikatakan bahwa kelompok tani merupukan kumpulan orang-orang tani atau petani, yang terdiri atas petani dewasa baik pria maupun wanita juga petani taruna yang terikat secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasarkeserasian dan kebutuhan bersama serta berada dilingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani.(Hanifah, 2006)
Kelembagaan penyuluhan pertanian terutama setelah desentralisasi pengambilan keputusan penataan perangkat daerah dan pemanfaatan ketenagaan penyuluh pada banyak daerah kabupaten kota menjadi bermasalah Data Pusat Pengembangan POenyuluhan Pertanian tentang Profil Kelembagaan dan Ketenagaan Penyuluhan Pertanian yang dirilis oktobe 2002 menghasilkan gambaran kelembagaan penyuluhan otonomi daerah teramat memperhatikan Rahardian dalam Bekti W. dkk (2007)
Kelembagaan penyuluhan pertanian di Indonesia sekarang ini memiliki beragam bentuk institusi. Ada yang namanya Badan Penyuluhan Pertanian, Balai Informasi Penyuluhan Pertanian, Kantor Penyuluhan Pertanian, Unit Pelaksana Teknis Daerah Penyuluhan Pertanian, Sub Dinas Penyuluhan Pertanian, Seksi Penyuluhan Pertanian, Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluhan Pertanian dan lain sebagainya. Bentuk dan nama tersebut sesuai dengan kemauan yang diingini oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setempat. Di sebagian daerah ada pula yang tidak membuat institusi penyuluhan pertanian, karena menganggap tidak penting.
Beragamnya bentuk kelembagaan penyuluhan pertanian di Kabupaten/Kota itu, mencerminkan beragamnya pula persepsi pemerintah daerah tentang penyuluhan pertanian, yang pada gilirannya akan sangat berpengaruh terhadap efektivitas penyuluhan pertanian untuk mendukung keberhasilan program pembangunan daerah yang bersangkutan.
Pada era otonomi daerah ini, ditemui pula banyak instansi yang menangani penyuluhan pertanian, sehingga terjadi overlapping tugas dan fungsi penyuluhan pertanian. Ada tugas-tugas lain yang bukan tupoksi penyuluh pertanian, dibebankan kepada Penyuluh Pertanian, seperti penagihan hutang kredit, pencacahan sensus dan lain sebagainya.
Di beberapa Kabupaten/Kota, Penyuluh Pertanian tidak diakui eksistensinya, dan betul-betul menjadi kelompok terbuang. Pola karir tidak jelas, pengurusan angka kridit poin tidak bisa dilaksanakan, dan kenaikan pangkat sering terlambat.
Persoalan penyuluhan pertanian ini semakin komplit ketika peningkatan kompetensi penyuluh, terutama melalui pendidikan dan latihan sudah jarang atau tidak dilakukan lagi, kelangkaan biaya operasional, pemberangusan tunjangan fungsional atau bila ada yang membayarkannya, jumlahnya sering tidak sesuai dengan yang seharusnya. Perencanaan programa penyuluhan tidak dilakukan lagi. Ada yang melaksanakan tetapi tidak memenuhi prinsip-prinsip penyuluhan pertanian. Ada yang melakukan pembuatan programa, tetapi masih dalam nuansa keproyekan, belum ke nuansa kelanggengan (sustainability), kegiatan penyuluh pertanian masih berdiri sendiri, belum dilakukan sebagai sistem pemberdayaan.

Daftar Pustaka

Bekti W. dkk. 2007. Presepsi PPL dan Petani Tentang Revitalisasi Pertanian Pada Aspek Kelembagaan di Kabupaten Sragen. UNS Press. Surakarta.
Hanifah dkk. 2006 Studi Tentang Penataan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian di Kabupaten sragen dalam Rangka Revitalisasi Penyuluhan Pertanian. UNS Press. Surakarta.

Ekonomi Kemiskinan

Disampaikan Oleh Ir. Marcellinus Molo, M.S. Phd
EKONOMI KEMISKINAN

Sebagian besar penduduk dunia tergolong miskin. Jika kita mengetahui ekonmi kemiskinan, kita akan banyak mengetahui ekonomi sesungguhnya terjadi. Kebanyakan penduduk miskin di dunia hidup dari bidang pertanian. Jika kita mengetahui ekonomi pertanian, maka kita akan mengetahui ekonomi kemiskinan.
Ahli-ahli ekonomi merasa sulit memahami konstrain-konstrain preferensi dan kelangkaan (scarcity) yang menentukan pilihan-pilihan bagi kamun miskin. Kita semua tahu bahwa sebagian besar penduduk dunia tergolong miskin, bahwa mereka memperoleh sedikit sekali imbalan atas tenaga kerja mereka, bahwa separuh atau lebih dari pendapatan mereka yang sangat rendah dibelanjakan untuk bahan makanan, bahwa mereka sebagian besar tinggal di negara-negara berpendapatan rendah, dan bahwa sebagian besar dari mereka mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian. Hal yang tidak banyak difahami oleh banyak ahli ekonomi adalah bahwa penduduk miskin tidak kalah dibanding penduduk kaya untuk memmperbaiki nasib mereka dan anak-anak mereka.
Apa yang telah kita pelajar selama sekade-dekade terakhir mengenai ekonomi pertanian akan tampak bagi orang-orang yang mengetahuinya dengan baik, sebagian bersifat paradoks. Pertanian di banyak negara berpendapatan rendah mempunyai kapasitas ekonomi potensial untuk memproduksi bahan makanan yang cukup bagi penduduk yang terus bertambah dan juga memperbaiki pendapatan serta kesejahteraan penduduk miskin secara berarti. Faktor-faktor produksi yang menentukan dalam perbaikan kesejahteraan penduduk miskin bukanlah ruang, energi dan lahan pertanian. Faktor-faktor penentunya adalah perbaikan kualitas penduduk dan peningkatan pengetahuan.
Dalam dekade-dekade terakhir ini, karya para akademis ekonomi telah sangat memperluas wawasan kita mengenai ekonomi modal manusiawi (the economics of human capital), khususnya ekonomi mengenai penelitian, tanggapan-tanggapan para petani terhadap teknik-teknik produksi baru yang menguntungkan, hubungan antara produksi dan kesejahteraan serta ekonomi keluarga. Akan tetapi, ekonomi pembangunan telah mengelami beberapa kesalahan intelektual.

Kesalahan utama anggapan bahwa teori ekonimi standar tidak cukup untuk memahami negara-negara berpendapatan rendah dan oleh karena itu suatu teori ekonomi yang lain perlu dikembangkan. Model-model yang dikembangkan untuk tujuan ini umumnya disambut dengan gembira, hingga menjadi jelaslah bahwa model-model tersebut merupakan hasil kajian intelektual yang terbaik. Beberapa ahli ekonomi memberikan reaksi dengan mengajukan penjelasan-penjelasan kultural dan sosial tentang keadaan perekonomian yang buruk di negara-negara berpendapatan rendah, walau pun kegunaan dari hasil-hasil studi sarjana-sarjana di bidang kultural dan tingkah laku tidak mudah di fahami. Jumlah ahli ekonomi yang menyadari bahwa teori ekonomi standar dapat digunakan pada masalah-masalah kelangkaan (scarcity) di negara-negara berpendapatan rendah seperti halnya pada masalah-masalah serupa di negara-negara berpendapatan tingi, kian bertambah.
Kesalahan ke dua, adalah pengabaian sejarah ekonomi. Ilmu ekonomi klasik dikembangkan pada saat banyak orang di Eropa Barat baru saja memperoleh pengidupan dari lahan-lahan tandus (miskin) yang mereka olah dan ditinggalkan dalam masa yang tidak lama. Sebagian akibatnya, para ahli ekonomi perintis menghadapi kondisi-kondisi serupa dengan yang sedang berlaku di negara-negara berpendapatan rendah sekarang. Pada masa Ricardo, kurang lebih separuh dari pendapatan keluarga para pekerja (buruh) di Inggris dibelajakan untuk bahan makanan. Demikian pula yang sedang dialami oleh banyak negara berpendapatan rendah. Marshall mengatakan kepada kita bahwa ’upah mingguan dari buruh-buruh Inggris kerapkali kurang dari harga setengah gantang (bushel) gandum yang berkualitas baik ketika Ricardo menerbitkan Principles of Political Economy and Taxation (1817). Upah mingguan dari buruh bajak di India pada saat sekarang kira-kira kurang dari harga dua gantang gandum . Pengetahuan mengenai pengalaman dan prestasi penduduk miskin pada masa-masa lampau akan sangat membantu suatu pemahaman akan masalah-masalah dan kemungkinan-kemungkinan bagi negara-negara yang kini berpendapatan rendah. Pemahaman seperti ini adalah jauh lebih penting daripada pengetahuan yang paling terinci dan pasti mengenai permukaan bumi atau mengenai ekologi, atau mengenai teknologi masa depan.
Persepsi historis tentang penduduk juga tidak ada. Kita mengekstrapolasi statistik global dan kagum akan interprestasi kita – terutama bahwa penduduk miskin berbiak seperti tikus kutup (lemmings) yang menuju kepada kepunahan mereka sendiri. Adanya penduduk dalam keadaan miskin, tidak pernah terjadi dalam sejarah sosial dan ekonomi kita sendiri. Perkiraan-perkiraan mengenai pertumbuhan penduduk yang destruktif di negara-negara miskin sekarang adalah juga palsu.
LAHAN DINILAI TERLALU TINGGI
Suatu pandangan yan dianut secara luas – pandangan naturalis (the natural earth view) – adalah bahwa luas lahan yang sesuai untuk menanam tanaman pangan adalah benar-benar tertentu dan persediaan energi untuk mengerjakan lahan semakin menipis. Menurut pandangan ini, tidaklah mungkin terus menerus memperoduksi bahan makanan dalam jumlah yang cukup untuk penduduk dunia yang bertambah. Suatu pandangan alternatif – pandangan sosial-ekonomi (the socio-economic view) – adalah bahwa manusia mempunyai kemampuan dan akal budi untuk mengurangi ketergantungannya pada lahan pertanian, pertanian tradisional, dan sumber energi yang terus merosot serta mengurangi biaya nyata dalam produksi bahan makanan untuk penduduk dunia yang terus bertambah. Melalui penelitian, kita menemukan pengganti terhadap lahan pertanian yang tidak pernah dibayangkan Ricardo, dan karena pendapatan meningkat, para orangtua menginginkan anak lebih sedikit, dan kualitas anak akan menggeser kuantitas anak, yang tidak pernah dibayangkan Malthus. Ironisnya ekonomi, yang telah lama dikenal sebagai ilmu pengetahuan suram, menunjukkan bahwa pandangan naturalis yang suram mengenai bahan makanan tidak sesuai dengan sejarah yang menunjukkan bahwa kita dapat memperbesar sumbe-sumber melalui kemajuan pengetahuan. Saya setuju dengan Margaret Mead bahwa ”Masa depan umat manusia adalah – terbuka –tertutup (open-ended)”. Masa depan umat manusia tidak ditakdirkan oleh ruang, energi, dalam lahan pertanian, ia ditentukan oleh evolusi akal budi umat manusia.
Perbedaan-perbedaan produktivitas lahan tidak menjelaskan mengapa penduduk miskin berada di bagian dunia yang telah lama berpengehuni. Penduduk di India telah menjadi miskin sejak berabad-abad lamanya baik di Plateau Deccan, di mana produktivitas lahan tadah hujan adalah rendah dan di lahan-lahan India Selatan yang produktivitasnya tinggi. Di Afrika penduduk berdiam di lahan-lahan yang tidak produktif yang terletak di bagian selatan Sahara, pada lahan-lahan yang agak lebih produktif di lereng-lereng yang curam di daerah Rift, dan lahan-lahan aluvial yang sangat produktif di sepanjang dan pada muara Sungai Nile, semuanya memiliki suatu kesamaan: mereka sangat miskin. Demikian pula, perbedaan-perbedaan yang sangat terkenal mengenai rasio lahan penduduk di seluruh negara berpendapatan rendah, tidak menghasilkan perebdaan kemiskinan yang sebanding. Apa yang paling berarti di dalam hal lahan pertanian, adalah insentif-insentif dan kesempatan-kesempatan terkait bagi para petani untuk meningkatkan penggunaan lahan dengan efektif melalui investasi yang mencakup sumbangan-sumbangan penelitian pertanian dan perbaikan ketrampilan manusia, satu bagian integral dari modernisasi ekonomi negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah adalah penurunan arti ekonomi dari lahan pertanian dan peningkatan modal manusiawi: ketrampilan dan pengetahuan.
Meskipun sejarah ekonomi, ide-ide dari para ahli ekonomi mengenai lahan adalah sebagai satukaidah, masih mengikuti Ricardo. Tetapi konsep Ricardo mengenai tanah, ”daya-daya lahan yang asli dan tak dapat dirusah” tidak sesuai lagi, walau keadaan tersebut pernah terjadi. Sumbangan lahan dalam pendapatan nasional berupa sewa tanah yang merosot terus menerus dengan nyata di negara-negara berpendapatan rendah.
Mengapa hukum Ricardo mengenai sewa (yang memperlakukannya sebagai hasil dan bukan sebagai penyebab dari harga-harga) kehilangan arti ekonominya? Ada dua sebab utama: pertama. Modernisasi pertanian telah mengubah lahan miskin menjadi lahan sangat produktif dibanding keadaan alam; Kedua, penelitian pertaniah telah menghasilkan substansi bagi lahan pertanian. Dengan beberapa perkecualian setempat. Lahan-lahan di Eropa pada mulanya berkualitas rendah. Sekarang lahan-lahan tersebut sanagt produktif. Lahan-lahan di Finlandia semula kurang produktif dibanding lahan di bagian-bagian barat Uni Sovyet, tetapi sekarang lahan pertanian di Finlandia menjadi lebih unggul. Lahan pertanian di Jepang pda masa sekarang ini lebih unggul. Di negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah, perbahan-perubahan ini sebagian merupakan konsekuansi dari penelitian pertanian’ termasuk penelitian yang diwujudkan dalam bentuk pupuk buatan, pestisida, peralatan dan masukan-masukan (inputs) lain. Ada substitusi-substitusi baru terhadap lahan pertanian, atau perluasan lahan pertanian. Proses substitusi digambarkan dengan baik pada tanaman jagung: areal panen jagung di Amerika Aerikat pada tahun 1979 ada 33 juta area, yang kurang dari areal panen tahun 1932, dan menghasilkan 7,76 mmilyar gantang, tiga kali produksi 1932.

KUALITAS MANUSIA DINILAI TERLALU RENDAH
Sementara lahan bukan satu-satunya faktor terpenting yang menyebabkan kemiskinan, faktor manusia yaitu : investasi dalam perbaikan kualitas manusia dapt dengan nyata meningkatkan prospek-prospek ekonomi dan kesejahteraan penduduk yang miskin. Pemeliharaan anak, perumahan dan pengalaman bekerja, perolehan informasi dan ketrampilan yang diperoleh melalui sekolah dan investasi-investasi lain dalam bidang kesehatan dan sekolah dapat memperbaiki kualitas penduduk. Investasi-investasi seperti itu di negara-negara berpendapatan rendah telah berhasil memperbaiki prospek-prospek ekonomi yang tidak mampu dihilangkan oleh ketidakstabilan politik. Penduduk miskin di negara-negara berpendapatan rendah bukanlah para tahanan dari suatu ekuilibrium kemiskinan yang ketat, yang tak dapat dipecahkan ilmu ekonomi. Tidak ada kekuatan-kekuatan besar (luas biasa) yang menghapus semua perbaikan ekonomi dan menyebabkan penduduk miskin meninggalkan perjuangan ekonominya. Sekarang telah terkumpul bukti-bukti bahwa penduduk pertanian yang miskin mempunyai reaksi terhadap kesempatan-kesempatan yang lebih baik.
Harapan-harapan dari manusia dalam pertanian-buruh pertanian dan usahawan (enterprenir) usahatani yang bekerja dan mengalokasikan sumber-sumber dibentuk oleh kesempatan-kesempatan baru dan oleh insentif-insentif yang mereka tanggapi. Insentif-insentif ini, yang eksplisit di dalam harga-harga yang mereka bayar untuk produsesn dan barang serta jasa yang dikonsumsi, sangat terdistorsi yang disebabkan oleh permerintah (goverment-incude distorsions) adalah untuk engurangi sumbangan ekonomi yang mampu diberikan pertanian).
Pemerintah cenderung mengintroduksi distorsi-distorsi yang mendiskriminasikan pertanian karena politik dalam negeri umunya menguntungkan penduduk kota atas biaya penduduk pedesaan, walaupun jumlah penduduk pedesaan jauh lebih besar . Pengaruh politik dari konsumen dan industri di kota memungkinkan mereka memperoleh bahan makanan murah atas biaya sejumlah besar penduduk pedesaan yang miskin. Diskriminasi ini dirasionalisasi dengan alasan bahwa pertanian bersifat terbelakang (miskin) dan bahwa sumbangan ekonominya kurang berarti, walaupun dengan Revolusi Hijau (Green Revolution). Industrialisasi yang cepat dianggap sebagai kunci kemajuan ekonomi. Kebijaksanaan yang memberikan prioritas utama terhadap industri dan mempertahankan harga pangan (biji-bijian) tetap murah. Sangat disesalkan bahwa doktrin ini masing didukung oleh beberapa lembaga donor dan dirasionalisasikan oleh beberapa ahli ekonomi di negara-negara berpendapatan tinggi.
Para petani di dunia , dalam menghadapi biaya, penerimaan dan resiko, adalah agen-agen yang membuat perhitungan ekonomi. Di dalam domain mereka yang kecil, individual dan alokatif, mereka adalah usahawan-usahawan yang dengan diam-diam mengamati kondisi-kondisi ekonomi yang tidak diketahui oleh para ahli, betapa efisiennya mereka. Walaupun para petani berbeda kemampuannya dalam pengamatan (analisa), interprestasi dan mengambil tindakan tepat sebagai reaksi terhadap informasi baru, karena mereka berbeda pendidikan, kesehatan, dan pengalaman. Mereka mempunyai sumber daya manusia yang esensial berupa keusahawanan. Pada kebanyakan usahatani, para wanita adalah juga usahawati dalam mengalokasikan waktu mereka dan menggunakan produk-produk pertanian dan barang-barang yang dibeli dalam produksi rumah tangga. Kemampuan alokatif dipenuhi oleh jutaan pria dan wanita pada satuan-satuan produksi berskala kecil, karena pada umumnya pertanian merupakan sektor ekonomi yang sangat terdesentralisasi. Bila pemerintah telah mengambil alih fungsi keusahawanan dalam usahatani, mereka telah gagal memberikan suatu kemampuan substitusi alokatif yang efektif dalam modernisasi pertanian. Peranan-peranan alokatif para petani dan wanita-tani serta kesempatan-kesempatan ekonomi mereka adalah penting.
Keusahawanan adalan juga esensial dalam penelitian, yang selalu merupakan suatu kegiatan petualangan, yang memerlukan organisasi dan alokasi sumber-sumber yang langka. Intisari penelitian adalah bahwa penelitian merupakan suatu upaya dinamis tentang hal-hal yang belum diketahui atau setengah diketahui. Diperlukan dana, organisasi, dan ilmuwan yang kompeten, tetapi semuanya ini belumlah lengkap. Keusahawanan dalam bidang penelitian diperlukan baik oleh para ilmuwan atau oleh orang-orang yang terlibat dalam sektor penelitian dari ekonomi. Seseorang harus memutuskan bagaimana mendistribusikan sumber-sumber terbatas yang tersedia, berdasarkan keadaan pengetahuan yang dimilikinya.

DISEKUILIBRIA YANG TAK TERHINDARKAN
Transformasi pertanian ke dalam suatu keadaan produktif yang meningkat, memerlukan suatu proses yang umumnya dikenal sebagai modernisasi, yang memerlukan penyesuaian dalam bertani karena tersedia kesempatan-kesempatan yang lebih baik. Nilai dari kemampuan menghadapi disekuilibria adalah tinggi dalam suatu ekonomi yang dinamis. Disekulibria seperti itu tidak dapat terhindarkan. Disekuilibria tidak dapat dieliminasi melalui hukum, melalui kebijaksanaan Pemerintah dan jelas-jelas bukan dengan cara retorik. Pemerintah tidak dapat dengan efesien memainkan fungsi usahawan-usahawan pertanian.
Ahli-ahli sejarah masa depan pasti akan dibingungkan oleh luasnya insentif-insentif ekonomi yang telah berantakan selama dekade-dekade terakhir. Pandangan intelektual yang dominan bersifat antagonistik terhadap insentif-insentif pertanian, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi yang berlaku mengurangi fungsi insentif-insentif produsen. D. Gale Johnson telah menunjukkan bahwa potensi ekonomi yang besar dari pertanian di banyak negara berpendapatan rendah tidak terealisir. Kemungkinan-kemungkinan teknis telah menjadi semakin menguntungkan tetapi insentif-insentif ekonomi yang diperoleh para petani di negara-negara tersebut untuk merealisir potensi ini tidak berhasil, baik karena informasi relevan tidak tersedia atau karena harga-harga dan biaya-biaya yang dihadapi para petani telah terdistorsi. Karena ketiadaan insentif-insentif yang menguntungkan, para petani tidak melakukan investasim, termasuk pembelian input-input unggul. Intervensi oleh Pemerintah saat ini merupakan penyebab utama dari tidak tersedianya insentif-insentif ekonomi yang optimum.

KEMAJUAN KUALITAS PENDUDUK
Sekarang saya beralih kepada peningkatan kualitas manusia yang dapat diukur baik untuk penduduk yang bertani mau pun bukan petani. Kualitas dalam kontek ini terdiri dari berbagai bentuk modal manusiawi (human capital). Saya telah mengemukakan di mana saja bahwa walaupun ada alasan kuat untuk menggunakann suatu definisi modal manusiawi yang sangat tepat, definisi tersebut akan mengalami pula kemenduaan (ambiguities) yang terus menganggu teori kapital (capital theory) pada umunya, dan konsep kapital dalam model-model pertumbuhan ekonomi pada khususnya. Kapital itu bermuka-dua, dan apa yang dijelaskan ke dua muka itu kepada kita tentang pertumbuhan ekonomi, yang merupakan suatu proses dinamis, sebagai suatu kaidah, adalah sejarah-sejarah yang tidak konsisten. Memang seharusnya demikian, karena kisah biaya merupakan kisah dari investasi yang terbenam (cunk investment); misalnya, sekali seorang petani mengadakan investasi berupa kereta kuda, kereta tersebut hanya sedikit nilainya bila ditarik oleh traktor. Cerita lain mengenai nilai terdiskon (discounted value) dari arus jasa-jasa yang disumbangkan kapital, yang berubah sesuai dengan perubahan pertumbuhan. Tetapi yang lebih buruk adalah anggapan, yang mendasari teori kapital dan agregasi kapital dalam model-model pertumbuhan, bahwa kapital bersifat homogen. Setiap bentuk kapital memiliki sifat-sifat khusus: sebuah bangunan, sebuah traktor, jenis pupuk tertentu, sebuah sumur pompa, dan banyak bentuk investasi lainnya, tidak hanya di bidang pertanian, tetapi juga dalam semua aktivitas produksi yang lain. Seperti telah diajarkan oleh Hick kepada kita, asumsi homogenitas kapital ini merupakan malapetaka bagi teori kapital : Adalah sangat tidak tepat menganalisa dinamika pertumbuhan ekonomi terutama menyangkut ketimpangan kapital karena perbedaan-perbedaan rates of returns, apakah agregasi kapital dipandang dari segi biaya-biaya faktor (factor costs) atau dipandang dari segi nilai terdiskon dari jasa-jasa seumur hidup (lifetime services) dari berbagai bagian-bagiannya. Juga tidak ada suatu katalog dari semua model pertumbuhan yang ada, dapat membuktikan bahwa ketimpangan-ketimpangan ini adalah sama.
Tetapi, mengapa mencoba mengubah lingkaran menjadi empat per segi? Jika kita tidak dapat mengamati ketimpangan-ketimpangan ini, kita harus menemukannya, karena ketimpangan-ketimpangan itu merupakan pegas utama dari pertumbuhan ekonomi. Ketimpangan-ketimpangan merupakan pegas utama karena ia memberikan isyarat-isyarat ekonomi yang mendorong pertumbuhan. Maka salah satu bagian penting dari pertumbuhan ekonomi tertutup oleh agregasi kapital seperti itu.
Nilai dari modal manusiawi tambahan tergantung kepada kesejahteraan tambahan yang diperoleh manusia daripadanya, modal manusiawi memperbesar produktivitas pertanian dan non pertanian, dalam produksi rumah tangga, dalam waktu dan sumber-sumber lain yang dialokasikan para mahasiswa untuk pendidikan mereka, dan dalam migrasi untuk memperoleh kesempatan kerja yang lain baik. Kemampuan semacam itu juga sangat memperbesar kepuasan-kepuasan yang merupakan suatu bagian integal dari konsumsi sekarang dan konsumsi di masa depan.

Keterangan Sumber :
* Bab ini disusun berdasarkan kuliah Nobel yang saya sampaikan pada tanggal 8 Desember 1979, di Stockhlm, Swedia, hakcipta @ Yayasan Nobel 1979. saya berhutang budi kepada gary.S.Becker, Milton Friedman, A.C. Harberger, D.Gale Johnson, dan T.Paul Schultz atas saran-saran mereka dan juga kepada isteri saya, Ester Schultz, atas saran-sarannya erhadap apa yang saya piker telah saya nyatakan dengan jelas, tetapi baginya belum cukup jelas.

Alfred Marshall, Principles of Economics, edisi ke 8 (New York:Mac Millan, 1920), hal. XV
Theodore W. Schultz, “On the Economics of the Increases in the Value of Human Time over Time,” dalam Economics Growth and Resources, Vol.2: Trend and Factors, Ed. R.C.O. Mathew (London:MacMillan, 1980), the Proceeding of the Fifth World Conggress of the International Economics Association, Tokyo.
Untuk suatu diskusi lebih lengkap, lihat karangan saya, “On Economics and Politics of Agriculture,” dalam Distortions of Agricultural Incentives, Ed. Theodore W.Schultz (Bloomington, Ind.: Indiana University Press, 1978), hal. 3-23
Lihat Theodore W.Schultz, Transforming Tradisitional Agriculture (New Haven:Yale University Press, 1964; repr. New York: Arno Press, 1976).
Finish Welch, “Education in Production, “Juournal of Political Economy 78 (Januari-Februari 1970):35-59; idem The Role of Investments in Human Capital in Agriculture dalam Distortions of Agriculture Incentives Hal.259-81; Robert E.Evenson,”The Organization of Research to Improve Crops and Animals in Loe-income Countries, “dalam Distortions of Agriculture Incentives hal. 223-45
Theodore.W.Schultz,Ed., Economics of the Family:Marriage, Children, and Human Capital (Chicago:University of Chicago Press, 1974)

Lihat Theodore W. Schultz, “The Value of the Ability to Deal with Disequilibria, “Journal of Economic Literature 13 (September 1975): 827-46.
D. Gole Johnson, “Food Production Potentials in Developing Countries: Will They be Realized? “Bureau of Economic Studies Occasional Paper No.1 (St.Paul, Minn.: Macelester College, 1977); Idem, “International Prices and Trade in Reducing the Distortions of Incentives,” dalam Distortions of Agricultural Incentives, hal. 195-215.

Theodore W. Schultz, “Human Capital : policy issues and Research Opportunities, “Human Resources (New York : National Bureau of Economic Research, 1972).
John Hikcs, Capital and Growth (Oxford : Oxford University Press, 1965), Bab 3 hal. 35.

Prinsip-prinsip Komunikasi

Untuk memahami komunikasi dalam segala bentuk dan fungsinya, kita perlu memahami prinsip-prinsip komunikasi. Devito (1997) mengemukakan delapan prinsip komunikasi yaitu : komunikasi adalah paket isyarat, komunikasi adalah proses penyesuaian, komunikasi mencakup dimensi isi dan hubungan, komunikasi melibatkan transaksi simetris dan komplementer, rangkaian dipunktuasi, komunikasi adalah proses transaksional, komunikasi tak terhindarkan dan komunikasi bersifat tak reversible.
Devito (1997) dalam bukunya Komunikasi Antarmanusia menjelaskan kedelapan prinsip tersebut sebagai berikut:
1. Komunikasi adalah paket isyarat.
Perilaku komunikasi, apakah melibatkan pesan verbal, isyarat tubuh atau kombinasi keduanya biasanya terjadi dalam ‘paket’.
2. Komunikasi adalah proses penyesuaian.
Komunikasi hanya dapat terjadi bila para komunikatornya menggunakan system isyarat yang sama. Kita tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain kita system bahasanya berbeda. Namun kita menyadari bahwa tidak ada dua orang yang menggunakan system isyarat yang sama persis. Oleh karena itu sebagian dari seni komunikasi adalah mengidentifikasi isyarat orang lain, mengenali bagaimana isyarat tersebut digunakan dan memahami apa artinya.
3. Komunikasi mencakup dimensi isi dan hubungan.
Komunikasi menyangkut hubungan antara pembicara dan pendengar. Sebagai contoh, seorang atasan mungkin berkata kepada bawahannya, “Datanglah ke ruang saya setelah rapat ini.” Pesan sederhana ini mempunyai aspek isi dan aspek hubungan. Aspek isi mengacu pada tanggapan perilaku yang diharapkan yaitu bahwan menemui atasan setelah rapat sedangkan aspek hubungan menunjukkan bagaimana komunikasi dilakukan. Kalimat perintah yang sederhana menunjukkan perbedaan status diantara keduanya.
4. Komunikasi melibatkan transaksi simetris dan komplementer
Dalam hubungan simetris, dua orang saling bercermin pada perilaku lainnya. Ketika satu orang tersenyum, maka satu orang lainnya akan tersenyum. Sedangkan dalam hubungan komplementer kedua pihak mempunyai perilaku yang berbeda. Perilaku salah seorang berfungsi sebagai stimulus perilaku komplenter yang lain. Dalam hubungan komplementer perbedaan di antara keduanya dimaksimumkan, orang menempati posisi yang berbeda; satu sebagai atasan, yang lain bawahan; yang satu aktif, yang lain pasif.
5. Rangkaian komunikasi dipunktuasi
Peristiwa komunikasi merupakan transaksi yang kontinyu. Tidak ada awal dan tidak ada akhir yang jelas. Kita dapat membagi proses kontinyu dan berputar ini ke dalam sebab akibat atau ke dalam stimulus dan tanggapan. Artinya, kita mensegmentasikan kontinyu komunikasi ini ke dalam potongan-potongan yang lebih kecil. Istilah bagi kecenderungan untuk membagi berbagai transaksi komunikasi dalam rangkaian stimulus dan respon disebut sebagai punktuasi (punctuation).
6. Komunikasi adalah proses transaksional
Transaksi yang dimaksud adalah bahwa komunikasi merupakan suatu proses, bahwa komponen-komponenya saling terkait, dan para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai satu kesatuan atau keseluruhan.
7. Komunikasi tak terhindarkan
Selama ini mungkin kita menganggap bahwa komunikasi berlangsung secara sengaja, bertujuan dan termotivasi secara sadar. Namun seringkali pula komunikasi terjadi meskipun seorang sama sekali tidak merasa ingin berkomunikasi. Ketika kita duduk melamun, mungkin kita merasa bahwa kita tidak berkomunikasi, namun bagi orang lain yang melihat akan menafsirkan perilaku kita. Setiap perilaku kita mempunyai potensi untuk ditafsirkan
8. Komunikasi bersifat tak reversible
Sekali kita mengkomunikasikan sesuatu maka kita tidak bisa tidak mengkomunikasikannya. Kita hanya dapat berusaha mengurangi dampak dari pesan yang sudah terlanjur disampaikan. Oleh karena itu kita perlu hati-hati dalam mengucapkan sesuatu yang mungkin nantinya ingin kita tarik kembali.

Sedangkan Mulyana (2003) dalam bukunya Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar menjelaskan beberapa prinsip komunikasi antara lain bahwa : komunikasi adalah suatu proses simbolik, setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi, komunikasi punya dimensi isi dan dimensi hubungan, komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan, komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu, komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi, komunikasi itu bersifat sistematik, semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi, komunikasi bersifat non sekuensial, komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional dan prinsip yang terakhir adalah Komunikasi bersifat inreversible, komunikasi bukan merupakan obat mujarab (panasea) untuk menyelesaikan berbagai masalah. Dijelaskan lebih lanjut oleh Mulyana (2003) sebagai berikut :

Prinsip 1. Komunikasi adalah suatu Proses Simbolik
Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan akan simbolisasi atau penggunaan lambang. Beberapa hal terkait dengan penggunaan lambang, yaitu :
 Lambang / simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang.
 Lambang meliputi pesan verbal, non verbal dan obyek yang maknanya disepakati bersama.
 Lambang adalah salah satu kategori tanda, dimana hubungan antara tanda dan obyek juga dapat dipresentasikan oleh ikon-ikon dan indeks. Namun perlu dicatat ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan bersama, sedangkan lambang memerlukan kesepakatan.
 Ikon adalah suatu benda fisik dua atau tiga dimensi yang menyerupai apa yang dipresentasikan. Representasi ini ditandai dengan kemiripan misalnya : patung Sukarno adalah ikon Sukarno
 indeks adalah suatu tanda yang secara alamiah mempresentasikan obyek lainnya. Istilah lain yang digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari yang disebut gejala (symptom). Indeks muncul berdasar hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan eksistensi. Misalnya awan gelap adalah indeks hujan akan turun.
 Lambang mempunyai bebeapa sifat, yaitu:
 bersifat sembarang, manasuka atau sewenang-wenang.
Apa saja bisa dijadikan lambang, bergantung pada kesepakatan bersama. Kata-kata (lisan dan tulisan), isyarat tubuh, huruf, makanan, dandanan, tempat tinggal, dan sebagainya
 Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna, kitalah yang memberi makna pada lambang.
 Lambang itu bervariasi
Lambang itu bervariasi dari suatu budaya ke budaya lain, dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu konteks waktu ke waktu yang lain. Misalnya Indonesia menyebut modul yang anda baca ini adalah buku, orang Inggris menyebutnya book, orang Jerman menyebutnya buch.

Prinsip 2. Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Kita tidak dapat berkomunikasi (We cannot not communication). Tidak berarti semua perilaku adalah komunikasi. sebagai contoh pada saat kita diminta untuk tidak berkomunikasi, hal ini sangat sulit dilakukan karena setiap hal yang kita lakukan berpotensi untuk ditafsirkan, ketika kita melotot ditafsirkan marah, ketika tersenyum ditafsirkan gembira. Begitu pula dengan sikap diam dapat ditafsirkan setuju.

Prinsip 3. Komunikasi Punya Dimensi Isi dan Dimensi Hubungan
Setiap komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Dimensi isi disandi secara verbal, menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan disandi secara non verbal, menunjukkan bagaimana cara mengatakan, dan mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu dan bagaimana seharusnya pesan ditafsirkan.
Sebagai contoh, ketika seorang pemuda bertanya “ Mau pergi ke Jakarta, Dik?’ kepada seorang wanita yang duduk disebelahnya dalam sebuah kereta, bukannya pria itu tidak tahu bahwa kereta menuju ke Jakarta, melainkan pria tersebut ingin berkenalan atau ingin menunjukkan keramahannya.

Prinsip 4. Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat kesengjaan mulai dari komunikasi yang tidak disengaja sama sekali (misalnya ketika seseorang mengamati kita pada saat menagis) sampai pada tingkat kesengajaan yang benar-benar direncanakan (misalnya seorang dosen yang mengajar di kelas).
Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. meski kita tidak bermaksud untuk menyampaikan pesan. Namun perilaku kita potensial untuk ditafsirkan. Coba amati teman anda yang sedang mengikuti kuliah !, mungkin ada yang berpangku tangan, ada yang melamun, nah anda dapat menafsirkan perilaku teman anda tersebut, tanpa kesengajaan bahwa perilaku teman yang anda amati telah menyampaikan pesan.

Prinsip 5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik/ruang, waktu, social dan psikologis. Sebagai contoh, topik-topik yang lazim dipercakapkan di rumah, tempat kerja, atau tempat hiburan seperti “lelucon”, “acara televisi”, “mobil”, “bisnis” , atau “perdagangan” terasa kurang sopan bila dikemukakan di masjid.
Waktu juga mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Misalnya kunjungan seorang mahasiswa kepada teman kuliahnya yang wanita pada malam minggu akan dimaknai lain dibandingkan dengan kedatangannya pada malam biasa. Kehadiran orang lain , sebagai konteks social juga akan mempengaruhi orang-orang yang berkomunikasi. Misalnya dua orang yang diam-diam berkonflik akan merasa canggung bila tidak ada orang lain sama sekali di dekat mereka.
Suasana psikologis peserta komunikasi mempengaruhi juga suasana komunikasi. ketika orang-orang berkomunikasi. Misalnya ketika kita menyampaikan kritik kepada teman kita pada suasana santai atau bercanda mungkin akan diterima dengan baik oleh teman kita, namun jika kritik kita lontarkan pada saat teman sedang merasa sedih atau emosi maka akan membuatnya marah.

Prinsip 6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Selain itu ketika orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan atau tatakrama. Misalnya kepada orang yang lebih tua kita akan memanggilnya dengan sebutan bapak / ibu, karena jika kita hanya memanggil namanya tentu akan membuatnya tersinggung. Dengan demikian orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon.

Prinsip 7. Komunikasi itu bersifat sistematik
Komunikasi setidaknya menyangkut dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi, yaitu : system internal dan system eksternal
 Sistem internal
Seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia serap selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan sosialnya (keluarga, masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok agama, lembaga, kelompok sebaya, tempat kerja, dan sebagainya).
Istilah lain system internal : kerangka rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (filed of experience), struktur kognitif, pola piker , keadaan internal atau sikap (attitude).
System internal mengandung semua unsur yang membentuk individu (termasuk ciri-ciri kepribadian, pendidikan, penget, agama, dan sebagainya). Sehingga system internal ini dapat diduga dari kata-kata yang diucapkan atau perilaku yang ditunjukan.
 Sistem eksternal
System eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan diluar individu, seperti isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan disekitar, penataan ruang. Merupakan elemen-elemen berupa stimulasi publik yang terbuka bagi setiap peserta komunikasi dalam setiap transaksi komunikasi.
Komunikasi merupakan produk dari perpaduan antara system internal dan eksternal di atas. Lingkungan dan objek mempengaruhi komunikasi kita, namun persepsi kita atas lingkungan juga mempengaruhi perilaku kita.

Prinsip 8. Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi.
Kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan karena kesamaan tersebut komunikasi lebih efektif. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang yang terlibat komunikasi lebih mudah mencapai pengertian bersama disbanding dengan orang yang tidak saling memahami bahasa yang digunakan.

Prinsip 9. Komunikasi bersifat non sekuensial
Sebenarnya komuniaksi manusia dalam bentuk dasarnya bersifat dua arah atau disebut juga bersifat sirkuler. Komunikasi sirkuler, ditandai beberapa hal berikut :
1) Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara, yang mengirim dan menerima pesan pada saat yang sama.
2) Proses komunikasi berlangsung timbal balik (dua arah)
3) Dalam prakteknya, tidak dapat dibedakan antara pesan dan umpan balik.
4) Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit. Misalnya komunikasi antara dua orang sebernarnya secara simultan melibatkan komunikasi dengan diri sendiri (berpikir) untuk menanggapi pihak lain.
Prinsip 10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Komunikasi pada dasarnya tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, namun merupakan proses yang berkesinambungan. Sebagai contoh ketika seorang anak dinasehati ibunya untuk rajin belajar, komunikasi ini tidak berakhir ketika ibunya selesai berbicara, namun akan berlangsung terus krena anak ini akan terus menerus mengingatnya atau memaknainya.
Dalam proses komunikasi, para peserta komunikasi saling mempengaruhi, seberapa kecil pengaruh itu, baik lewat komunikasi verbal maupun non verbal. Transaksi menunjukkan bahwa para peserta komunikasi saling berhubungan, sehingga kita dapat mempertimbangkan salah satu tanpa mempertimbangkan yang lainnya.
Implikasi dari komunikasi sebagai prose yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya).

Prinsip 11. Komunikasi bersifat irreversible
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai suatu proses yang selalu berubah. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya. Sehingga muncul ungkapan “To forgive but not to forget” (kita bisa memaafkan kesalahan orang lain, namun tidak dapat melupakannya).

Prinsip 12. Komunikasi bukan merupakan obat mujarab (panasea) untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Banyak permasalahan antarmanusia yang disebabkan oleh masalah komunikasi, namun komunikasi bukan obat mujarab (panasea) untuk menyelesaikan masalah terebut, karena permasalahan tersebut berkaitan dengan masalah structural. Sehingga agar komunikasi efektif maka masalah structural harus diatasi. Sebagai contoh meskipun pemerintah berusaha menjalin komunikasi yang efektif dengan warga Aceh, tidak mungkin usaha tersebut berhasil, selama pemerintah masih memperlakukan mereka secara tidak adil.

DAFTAR PUSTAKA

Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Professional Books. Jakarta.
Mulyana, Deddy M. 2003. Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung


Arsip

RSS turindra

  • MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?
    MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV? By Munif Chatib “Pak Munif, anakku ‘gila; sama games, gimana cara menghentikannya?” “Pak Munif, anakku bilang: ‘TV is my life!” Betapa banyak kegalauan orangtua melihat anak-anaknya tersihir oleh games dan TV. Ketika saya tes ke teman-teman saya yang rata-rata berumur 40-an, untuk main games bola dengan […] […]
    Azis Turindra
  • Catatan akhwat tomboy
    “Ustadzah tomboy ya?” kata salah seorang santri yang membuat saya kaget. Namun saya mencoba tersenyum dan balik bertanya, “kok adek tahu?” “Iya, dilihat dari cara jalannya” jawab santri tersebut dengan polosnya “Deg!!!” saya terhenyak dan langsung mengamati cara jalan saya. Sejak saat itu saya selalu introspeksi agar setiap prilaku saya jangan sampai menyeru […]
    Azis Turindra
  • Tiga Jenis Guru Berdasarkan Kemauan
    Ini adalah catatan dari salah satu pakar pendidikan munif chatib mengenai pandangannya tentang guru, mari kita simak Dalam minggu ini penulis banyak menerima undangan berbicara dalam acara beberapa sekolah. Hampir kebanyakan yang hadir adalah semua pengurus yayasan, kepala sekolah dewan guru dan semua karyawan yang bekerja di sekolah tersebut. Seorang kawan […]
    Azis Turindra

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.