Model Komunikasi

Dalam melihat fenomena komunikasi yang ada di sekitar, kita dapat menggunakan beberapa model komunikasi. Mulyana (2003) menjelaskan bahwa model merupakan representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak dengan menonjolkan penting unsure-unsur terpenting fenomena tersebut dan model jelas bukan fenomena itu sendiri.

FUNGSI DAN MANFAAT MODEL
Model merupakan gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dengan komponen lainnya. Oleh karena itu model komunikasi memiliki tiga fungsi seperti yang diungkapkan oleh Gordon Wiseman dan Larry Barker dalam Mulyana (2003), yaitu :
1. Melukiskan proses komunikasi
2. Menunjukkan hubungan visual
3. Memperbaiki kemacetan komunikasi (membantu menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi)
Setiap pembuatan model tentunya memiliki beberapa manfaat. Raymond S. Ross menjelaskan beberapa keuntungan model, antara lain :
1. Model memberikan anda penglihatan yang lain, berbeda dan lebih dekat.
2. Model menyediakan kerangka rujukan untuk memikirkan masalah.
3. Model mungkin menyarankan kesenjangan informasional yang tidak sgera tampak dan konsekuensinya dapat menyarankan tindakan yang berhasil. Dengan kata lain kegagalan dapat memberi petunjuk mengenai kekurangan model
4. Menyoroti problem abstraksi.
5. Menyatakan problem dalam bahasa simbolik bila terdapat peluang untuk menggunakan gambar atau symbol.
BEBERAPA MODEL KOMUNIKASI
Komunikasi bersifat dinamis, oleh karenanya model komunikasi berkembang dengan pesat hingga mencapai ratusan model, namun disini kita hanya akan membahas beberapa model yang sangat popular :

Model Stimulus – Respons
Model ini merupakan model komunikasi paling dasar. Model ini menunjukkan komunikasi sebagai suatu proses “aksi – reaksi” yang sangat sederhana. Sebagai contoh bila seorang tersenyum kepada kita, maka kita akan membalas senyumannya, atau bila seseorang melotot kepada kita, maka kita akan merasa takut.

Stimulus respon

Model S – R mengasumsikan bahwa kata-kata verbal (lisan dan tulisan), isyarat-isyarat nonverbal, gambar-gambar dan tindakan tentunya akan merangsang orang lain untuk memberikan respon dengan cara tertentu (Mulyana, 2003)

Model Aristoteles
Model aristoteles merupakan model komunikasi paling klasik dan meletakkan model komunikasi verbal yang pertama kali. Aristoteles mengemukakan tiga unsure dasar proses komunikasi yaitu : pembicara (speaker), pesan (message) dan pendengar (listener).

seting
Pembicara ————–> Pesan —————> Pendengar
Seting
Gambar 1. Model Aristoteles
Model Aristoteles ini sering juga disebut model retoris yang kini dikenal sebagai komunikasi publik. Aristoteles mengemukakan bahwa inti dari komunikasi adalah persuasi. Namun dalam model ini memeliki beberapa kelemahan di antaranya adalah komunikasi dianggap sebagai fenomena statis, terfokus pada komunikasi yang bertujuan (disengaja) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk orang lain untuk menerima pendapatnya dan tidak dibahanya aspek nonverbal dalam persuasi (Mulyana, 2003)

Model Komunikasi Laswell
Model ini menggunakan 5 pertanyaan yang perlu ditanyakan dan dijawab dalam melihat proses komunikasi, yaitu :

Who says what in which channel to whom with what effect ?
S M C R E

Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948. model Lasswell ini sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Unsure sumber (who) merangsang pertanyaan mengenai pengendalian pesan, unsure pesan (says what) merupakan bahan untuk analisis isi, saluran komunikasi (in which channel) dikaji dikaji dalam analisis media, unsure penerima (to whom) dikaitkan dengan analisis khalayak dan unsure pengaruh (with what effect) berhubungan dengan studi mengenai pengaruh (Mulyana, 2003).

Model Schramm
Wilbur Schramm membuat serangkaian model komunikasi mulai dari model yang sederhana, kemudian model yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu (Mulyana, 2003). Schramm menyatakan bahwa komunikasi senantiasa membutuhkan tiga unsure yaitu: sumber (source), pesan (message) dan sasaran (destination)
a. Model sederhana Schramm:
Sumber dan encoder adalah satu orang, sedangkan decoder dan sasaran adal;ah seseorang lainnya, dan sinyalnya adalah bahasa.

Source —–> encoder ——> signal ——> decoder —–> destination

Gambar 2. model sederhana Schramm

b. Model Schramm yang memperhitungkan pengalaman dua orang.
Sumber dapat menyandi dan sasaran dapat menyandi balik pesan, berdasarkan pengalaman masing-masing. Bila kedua lingkaran memiliki bersama yang besar, maka komunikasi mudah dilakukan. Semakin besar wilayah tersebut , semakin miriplah bidang pengalaman (field of experience) yang dimiliki kedua pihak yang berkomunikasi. Bila kedua lingkaran pengalaman tidak bertemu, maka komunikasi tidak mungkin berlangsung. Bila wilayah yang berimpit kecil, artinya pengalaman sumber dan pengalaman sasaran jauh berbeda, maka sangat sulit menyapaikan makna dari seseorang ke orang lain (Mulyana, 2003)

c. Model komunikasi unpan balik sebagai ‘lingkaran’ yang berkelanjutan untuk berbagi informasi.
Model ini merupakan penyempurnaan model Schram sebelumnya yang menempatkan pentingnya umpan balik. Dalam proses komunikasi, setiap orang sekaligus sebagai enkoder maupun decoder yang secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Proses kembali dalam model lingkaran disebut umpan balik (feed back).

Model Berlo
Muhamad (1995) menjelaskan bahwa model David K.Berlo menekankan komunikasi sebagai suatu proses dan menekankan “meaning are in the people” atau arti pesan yang dikirimkan pada orang yang menerima pesan bukan pada kata-kata pesan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa interpretasi pesan terutama tergantung kepada kata atau pesan yang ditafsirkan oleh si pengirim atau si penerima.
Berlo menggambarkan kebutuhan penyandi (encoder) dan penyandi balik (decoder) dalam proses komunikasi. Enkoder bertanggung jawab mengekspresikan maksud sumber dalam bentuk suatu pesan. Menurut Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor-faktor: keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, system social dan budaya. Pesan dikembangkan berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan dan kode. Saluran berhubungan dengan panca indera: melihat mencicipi, mendengar, menyentuh, membaui (Mulyana, 2003).

Penelaahan terhadap Model Komunikasi Berlo :
1) Sumber ( Source )
Seorang baik sebagai sumber maupun penerima harus memperhatikan hal-hal berikut dalam berkomunikasi :
a. Ketrampilan berkomunikasi ( Communication Skills ) yang terdiri atas:
• Kemampuan sumber dalam menyusun tujuan komunikasi
• Kemampuan sumber dalam menterjemahkan pesan ke dalam bentuk signal atau ekspresi tertentu.
b. Sikap , terdiri atas :
• Sikap terhadap diri sendiri
• Sikap terhadap materi atau pesan
• Sikap terhadap penerima pesan (receiver) maupun sikap receiver terhadap sumber
c. Pengetahuan, meliputi:
• Pengetahuan sumber tentang receiver, media komunikasi yang sesuai, metode pendekatan yang sesuai, serta pengetahuan tentang pesan
• Pengetahuan receiver tentang sumber, media, maupun pesan
d. Sistem sosial budaya, baik sumber maupun penerima harus memperhatikan system social budaya yang ada, yang meliputi :
• Norma yang dianut
• Sistem pengambilan keputusan (misal : terkait dengan inovasi bidang pertanian)
• Budaya yang berkembang dan dianut
2) Pesan dikembangkan berdasar :
• Kode pesan : penggunaan bahasa, gambar yang disepakati.
• Isi : disajikan utuh atau terpotong ?
• Perlakuan : pesan dapat dicerna oleh kelima indera manusia ?
3) Saluran komunikasi yang digunakan hendaknya:
• Baik menurut sasaran
• Dapat diterima oleh banyak sasaran
• Mudah digunakan oleh banyak sumber maupun penerima
• Lebih ekonomis
• Cocok dengan pesan (inovasi)
Mulyana (2003) mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan dalam model Berlo ini. Salah satu kelebihan model Berlo, bahwa model ini tidak terbatas pada komunikasi publik atau komunikasi massa, namun komunikasi antarpribadi dan berbagai bentuk komunikasi tertulis. Model Berlo juga bersifat heuristik (merangsang penelitian) karena memperinci unsure-unsur yang penting dalam proses komunikasi. model ini misalnya dapat memandu anda meneliti efek ketrampilan komunikasi penerima atas penerimaan pesan yang dikirimkan. Atau jika sebagai pembicara mungkin mulai menyadari bahwa latar belakang pembicara akan mempengaruhi penerima pesan (receiver).
Sedangkan keterbatasan model Berlo ini adalah Berlo mengganggap bahwa komunikasi merupakan sebuah fenomena yang statis, disamping itu umpan balik yang diterima pembicara dari khalayak tidak dimasukkan dalam model grafiknya dan komunikasi non verbal tidak dianggap penting dalam mempengaruhi orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Arni. 1995. Komunikasi Organisasi. Bumi Aksara. Jakarta.
Mulyana, Deddy M. 2003. Ilmu Komunikasi Sebuah Pengantar. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

About these ads

0 Responses to “Model Komunikasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Arsip

RSS turindra

  • MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV?
    MENGAPA ANAK DAN ORANGTUA ITU ‘GILA’ GAMES DAN TV? By Munif Chatib “Pak Munif, anakku ‘gila; sama games, gimana cara menghentikannya?” “Pak Munif, anakku bilang: ‘TV is my life!” Betapa banyak kegalauan orangtua melihat anak-anaknya tersihir oleh games dan TV. Ketika saya tes ke teman-teman saya yang rata-rata berumur 40-an, untuk main games bola dengan […] […]
    Azis Turindra
  • Catatan akhwat tomboy
    “Ustadzah tomboy ya?” kata salah seorang santri yang membuat saya kaget. Namun saya mencoba tersenyum dan balik bertanya, “kok adek tahu?” “Iya, dilihat dari cara jalannya” jawab santri tersebut dengan polosnya “Deg!!!” saya terhenyak dan langsung mengamati cara jalan saya. Sejak saat itu saya selalu introspeksi agar setiap prilaku saya jangan sampai menyeru […]
    Azis Turindra
  • Tiga Jenis Guru Berdasarkan Kemauan
    Ini adalah catatan dari salah satu pakar pendidikan munif chatib mengenai pandangannya tentang guru, mari kita simak Dalam minggu ini penulis banyak menerima undangan berbicara dalam acara beberapa sekolah. Hampir kebanyakan yang hadir adalah semua pengurus yayasan, kepala sekolah dewan guru dan semua karyawan yang bekerja di sekolah tersebut. Seorang kawan […]
    Azis Turindra

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: